Sudah Aku Pasrahkan ke Sekolah

“Bu, maaf. Saya sudah tidak sanggup mengajar Tino. Sejak kelas 5 lalu sebenarnya saya sudah kewalahan menghadapi kenakalannya. Saat saya visitasi dulu, bapak dan ibunya ternyata cuek dengan kelakuan anaknya. Malah menyalahkan saya sebagai gurunya. Nah, kemarin saya sampaikan kepada bapaknya, bahwa Tino tidak pernah mau mengerjakan tugas maupu soal-soal latiha  ujian.

Kemudian saya tanyakan, apa di rumah Tino sering didampingi belajarnya. Jawab bapaknya, “Boro-boro mendampingi Tino belajar, Bu. Kan sudah saya sekolahkan. La, kalau orang tua di rumah harus masih nungguin, ngajarin,dampingin belajar buat apa sayab sekolahkan. Kan, sudah aku pasrahkan ke sekolah.” Continue reading “Sudah Aku Pasrahkan ke Sekolah”

Tadi Jajan Apa, Nak?

Kita mengenal tri pusat pendidikan: sekolah, rumah, dan masyarakat. Artinya, pendidikan yang terjadi pada peserta didik berada dan dipengaruhi oleh ketiga pusat pendidikan tersebut. Namun, akhir-akhir ini gema dan makna istilah tersebut mulai menghilnag. Menghilang bersamaan semakin acuhnya masyarakat terhadap nasib pendidikan kita.

Sekolah/madrasah kemudian menjadi biang keladi segala nasib yang menyangkut produk pendidikan. Terlebih jika produk pendidikan gagal, yang akan mendapat tudingan pertama adalah kegagalan sekolah/madrasah dalam menyelenggarakan pendidikan. Kita lupa, bahwa peran sekolah / madrasah hanya 1/3 dari proses pendidikan yang sebenarnya. Yang 2/3 selebihnya adalah peran di rumah dan di tengah masyarakat.

Sangat tidak adil jika sekolah/madrasah kemudian dikatakan sebagai penyebab tunggal keberhasilan / kegagalan pendidikan. Tanpa peran orang rumah (keluarga) dan masyarakat terhadap proses pendidikan maka jauh panggang dari api pendidikan akan menghasilkan pribadi-pribadi unggul dan berkarakter sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Sekarang, sangat minim prosentasenya peran/dan tanggung jawab orang tua dalam melibatkan diri dalam proses pendidikan. Terlebih saat digembrokan sekolah gratis. Segala biaya ditanggung pemerintah. Orang tua lepas tangan terkait pembiayaan, yang terjadi rasa tanggung jawab dan rasa handarbeni orang tua terhadap proses pendidikan menjadi lemah. Paling tidak ini yang terjadi pada pendidikan tangkat dasar (SD/MI dan SMP/MTs).

Penulis berkesempatan diundang dalam rangka motivasi bagi orang tua/wali siswa kelas 9 dalam rangka menghadapi di suatu MTs Negeri di Gunungkidul Yogyakarta. Saat itu penulis berkesempatan berdialog dengan 90-an wali tersebut..

“Siapa yang sering menanyakan hasil ulangan anaknya di madrasah?”. Nihil; tidak satu pun orang tua yang tunjuk jari sebagai pertanda mengiyakan. “Siapa yang sering menanyakan ada / tidaknya tugas atau PR bagi anaknya?”. Jawabnya sama, nihil. ” “Siapa yang tahu jadwal kegiatan anaknya menjelang ujian?”. Sama jawabnya, tetap nihil.  “Siapa yang menanyakan uang jajan anaknya, bahis, sisa, atau untuk jajan apa?”.  Luar biasa, 75% orang tua angkat tangan.

Beda lagi untuk orang tua/wali siswa tingka SD/MI. Setiap anak pulang yang ditanyakan pertama tadi jajan apa. Uangnya masih atau tidak Jarang sekali mengecek dan bertanya tentang apa yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah/madrasah.

Peristiwa dai atas tentu tidak dapat digeneralisasi untuk keumuman masyarakat. Namun, itulah yan terjadi di lingkungan penulis memenmpat. Penulis rasakan, adanya sikap dan rasa tanggung jawab akan proses dan hasil pendidikan dari orang tua yang sangat lemah. Satu diantara penyebabnya adalah tidak adanya keterlibatan orang tua dalam proses, dainataranya pembiayaan. Ini mengakibatkan rasa handarbeni menjadi lemah.

 

Guru Agak Lega

Kurikulum pendidikan selalu berubah. Perubahan yang diharapkan adalah semakin meningkatnya mutu pendidikan Indonesia. Perubahan dari Kurikulum 2016 (KTSP) ke Kurikulum 2013 masih sangat dirasakan memberatkan para guru dalam melaksanakan ketugasannya. Adanya banyka masukan akan lebih-kurangnya Kurikulum 2013 akhirnya dilakukan evaluasi. Diharapkan dari evaluasi tersebut akan ada kurikulum yang siap saji dengan segala kenyamanan dalam pelaksanaannya.

Memasuki tahun pelajaran 2016/2017 ada kabar yang (agak) menggembirakan para guru. Standar penilaian yang selama ini dianggap memberatkan tugas guru saat ini ada titik terang. Sebagaimana yang disampaikan oleh Petinggi Kemendikbud beberapa waktu yang lalu, bahwa guru fokus menilai pada ranah kognitif dan psikomotorik. Sedangkan ranah afektif oleh guru agama dan PKn. Bukan berarti guru tidak boleh memberikan penilaian ranah afektif, tetap. Guru tetap menilai semua ranah. Hanay saj secara teknis nilai akhir dapat didiskusikan dengan guru agama dan PKn.

Dan guru harus tahu tentang perubahan mendasar pada kurikulum 2013 (terbaru ini). Semuanya dapat diunduh di www.kurikulumnasional.net.

 

Over Dosis Ujian

Istilah over dosis telah mengalami pergeseran makna ke arah negatif. OD singkatan kata tersebut saat ini lebih dimaknai dengan perilaku negatif: minum minumab beralkohol melebihi ketentuan yang seharusnya. Sebenarnya kata tersebut dapat digunakan dalam hal lain. Dunia pendidikan, misalnya.

Anak-anak kita yang saat ini kelas 9 di MTs, dikahwatirkan juga mengalamai OD. Bukan masalah minum minuman beralkohol sehingga membuat anak-anak itu mabuk. Namun, mabuk ujian. Dengan berbagai istilah sejak bulan Februari anak-anak kelas 9 telah dilatih mengerjakan soal-soal ujian. Dan sayangnya, latihan ujian tersebut hanya mengarah kepada soal-soal mata pelajaran tertentu yang terkait dengan Ujian Nasioanl (UN). Pelajaran lain “yang tidak penting” menjadi tidak terperhatikan.

Anak pun mabuk. Karena telah banyak dan berulang dengan “dijejali” soal-soal akhirnya menjadi lelah. Pikiran terkuras, tenaga lemas. Bahkan dikhawatirkan anak-anak tersebut pada saatnya nanti harus mengerjakan saol-soal junian nasional malah mengalami depresi. Dikhawatirkan pada saat yang seharusnya anak-anak fress menghadapi ujian malah sebaliknya, mabuk dan stress.

Akibatnya, hasil UN tidak maksimal. Nilai mata pelajaran selain UN juga asal-asalan kaena kurang terperhatikan tersebut.   Lalu, apa yang sebenarnya apa yang dipentingkan dalam pendidikan kita ini? Dengan berbagai ujian dan sering melupakan cara-cara yang mendidik jangan-jangan kita terjebak pada pencarian yang salah. Yaitu sekedar mencari angka. Bukan mencari nilai. Nilai-nilai karakter positif yang menjadi jargon pendidikan kita. Sebaliknya kita hanya kemudian puas dengan perolehan angka dengan mengabaikan nilai-nilai tersebut.

Gila, karena motivasinya bukan lagi nilai-nilai, terbukti dua kepada SMA di Makasar menjual/mengedarkan kunci jawaban kepada para siswa peserta ujian nasional. Apakah yang seperti ini yang diharapkan mencetak gerenasi berkarakter? Wah, jika denikian cara-cara yang dilakukan, maka harapan pendidikan kita bermutu masih jauh panggang dari api.

Kurikulum 2013 Kurikulum Berjalan

Kurikulum 2013 dilaksanakan  mulai tahun 2013. Banyak peraturan yang menyertainya. Untuk pengimplementasiannya, Permendikbud nomor 81a tahun 2013 menjadi acuan. Namun, karena masih adanya beberapa kesulitan, diterbitkan Permendikbud nomor 65 tahun 2014 tentang Standar Proses. Belum semua satuan pendidikan dasar dan menengah memahami aturan-aturan tersebut,  Oktober 2014 terbit Permendikbud nomor: 103 tentang Pedoman Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Perangkat pembelajaran yang harus disiapkan oleh pendidk pun mengalami perubahan komponen-komponennya. Komponen RPP, misalnya. Yang semula harus memuat tujuan dan metode, pada peraturan terakhir kedua komponen tersebut dihilangkan. Pada  satuan pendidikan sebagian guru telah menyusun RPP dengan menyertakan tujuan dan metode pembelajaran, akhirnya harus merevisi dan menyesuaikan dengan aturan terbaru. Continue reading “Kurikulum 2013 Kurikulum Berjalan”

Terimakasih Anakku

Nak, sebenarnya aku bangga saat kamu bersemangat menjemput asa. Kau ikhlas tinggalkan keluarga, handai taulan, dan kampung halaman. Satu yang kamu inginkan; masa depan.

Berjalannya waktu, seiring itu pula kamu mulai dewasa. Semakin kokoh kakimu,  makin membaja hatimu, dan makin realislis yang kamu mau. Namun, ada di antara kamu yang makin nglokro, kelihatan kurang bersemangat untuk mewujudkan yang pernah diinginkan saat itu. Mereka lebih kepada kemalasan dan sekedar ingin keturutan apa yang diinginkan saat ini. Continue reading “Terimakasih Anakku”

RT-an dengan Sepak Bola

Sepak Bola merupakan olah raga segala lapisan. Pecintanya pun tak mengenal kelas. Dari pejabat sampai rakyat lapisan bawah kepung di depan layar TV menyaksikan sepak bola. Tidak terkecuali malam ini, Ahad, 31 Maret 2013

Pertemuan rutin RT 01/10 Tembesi, Ponjong, Ponjong, Gunungkidul sangat istimewa. Pertemuan yang biasanya diisi dengan berbagai informasi dan rembuk warga, malam tadi khusus disepakati menyaksaikan sepak bola yang disiarkan salah satu TV suwasta. Mendadak, ternyata semua anggota RT menjadi penonton sekaligus komentator.

Yang saya heran, ternyata bapak-bapak yang jauh dari informasi kota tersebut sangat apal dengan para pemain sepak bola kelas dunia. Tidak sedikit pula, nama para pemain tersebut diganti dengan ciri yang menonjol dari pemain tersebut. Mereka benar-benar merdeka dan lepas bersorak, berkomentar, bahkan menghujat pemain maupun pemainan.

Liverpool sukses memetik kemenangan saat melawat ke kandang Aston Villa dalam lanjutan Premier League. Sempat tertinggal di babak pertama, The Reds akhirnya memetik kemenangan tipis 2-1.

 

 

Siapa yang Tadi Malam Belajar?

Sebenarnya sudah saya duga jawaban yang akan saya terima dari para siswa. Benar, dari 76-an siswa kelas IX yang sebentar lagi akan menempuh ujian, tidak ada seperempatnya yang mengacungkan tangan sebagi tanda bahwa tadi malam mereka  belajar. Jawaban-jawaban serupa  sering, dan amat sering saya temukan. Hal tersebut tidak hanya di tempat tugas baruku, MTs Negeri Sumbergiri, Ponjong, Gunungkidul, tetapi di tempat tugas lama pun sama (MTs Negeri Semanu GK).

Sering saya bertanya, mungkinkah ini fenomena yang menggejala di kalangan siswa kita? Lalu, apa yang menyebabkan demikian, dan apa solusinya?

Ternyata sama. Ketika saya berbincang dengan beberapa kepala sekolah/madrasah tentang kemalasan siswa belajar hampir merata di sekolah/madrasah. Khususnya siswa yang berada di pinggiran. Para siswa banyak melakukan kegiatan di luar statusnya sebaga pelajar. Kegiatan yang mereka lakukan lebih banyak yang sifatnya fun (hiburan). Thongkrongan, kebut-kebutan atau balapan liar, ps-an, atau game, habis waktu di depan TV, atau asyik dengan berjam-jam hp-an.

Ketika saya tanya, “Apa yang menghambat atau mengganggu kamu belajar?”. Jawaban secara berurutan sebagai berikut: HP, TV, Sepeda motor. Para siswa  tersebut rata-rata paling sedikit melakukan SMS 100 transasksi. Bahkan ada siswa yang melakukan penghapusan sms baik yang terkirim atau yang masuk dalam satu hari sampai empat kali karena penuh.  Dalam hal melihat TV dalam satu hari rata-rata lebih dari tiga jam. Pada saat ditanya tentang waktu belajar, tidak ada siswa yang menjawab belajar lebih dari dua jam sehari.

Para siswa melakukan belajar yang paling banyak pada saat ada PR. Dan mengerjakan PR itu anggapannya sudah belajar. Ini dapat kita mengerti bahwa siswa kita memang banyak yang belum paham apa itu belajar. Rasa tanggung jawab terhadap proses pembelajaran pun sangat rendah. Jangankan membuat ringkasan materi elajaran. Dari siswa 76 yang membuat ringkasan materi pelajaran yang akan di-UN-kan tidak mencapai 20 siswa. Meskipun kita tahu, meringkas materi pelajaran bukan suatu keharusan. Namun, paling tidak denga  membuat catatan kecil atau ringkasan materi pelajaran menunjukkan bahwa siswa tersebut belajar dan tanggung jawab.

Mendapatkan solusi yang jitu agar siswa mau belajar memang tidak gampang. Perhatian yang tidak fokus kepada status dan tanggung jawabnya sebagai siswa harus mendapat perhatian khusus dari semua pihak: guru, orang tua, dan masyarakat. Sayangnya, saat ini orang tua dan masyarakat cukup membebankan keberhasilan pendidikan atau sekolah para siswa itu hanya ke sekolah/madrasah. Orang tua dan masyarakat seakan telah lepas tanggung jawabnya terhadap perkembangan para siswa.

Yang juga mungkin perlu mendapat perhatian khusus adalah metode pembelajaran yang memungkinkan para siswa menjadi tumbuh kemauannya untuk mengerti, mendalami, dan mengembangkan ilmu. KBM yang monoton memang sangat membosankan. PR terberat guru akhirnya membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Untuk itu, guru harus benar-benar dapat menganalisa apa dan bagaimana metode yang dapat diterima ara siswa tersebut.

 

Dengan Dadu Mereka Menentukan Pilihan

Jadwal Ulangan Tengah Semester (UTS) jam I adalah Bahasa Arab.  Kebetulan saya mendapat tugas menunggui di salah satu ruang.  Biasanya setiap ruang ditunggui oleh dua pengawas. Entah karena apa, pasangan pangawas saya tidak hadir. Ruang terisi dua kelas, yaitu kelas 7 dan kelas 8. Masing-masing 11 peserta dan 10 peserta. Dan ruangan itu pun hanya saya pengawasnya.

Suasana hening pada menit-menit awal. Setelah kira-kira 20-an menit, suara geliat dan gesekan pantat mulai menyeruak di ruangan. Bisik-bisik antar peserta UTS pun mulai terdengar. Dari wajah dan sikap peserta didik, saya mengira bahwa sebagian besar mereka kesulitan menentukan jawaban kepastian.

Banyak cara untuk mendapat jawaban dari teman. Namun, karena rata-rata mereka juga tidak dapat memberikan jawaban kepastian, jawaban yang paling banyak munculk adalah ketidakbisaan yang di peragakan dengan gelengan kepala.

Ada yang menarik sekaligus membuat saya prihatin. Di antara peserta UTS ada dua peserta yang duduk salam satu meja asik bermain setip (penghapus). Penghapus tersebut dikocok-kocok dalam dua genggaman tangan lalu dilihat.  Hasil lihatannya tersebut kemudian dipindahkan ke lembar jawaban.  Setelah  kira-kira dilakukan 3-4 kali secara bergantian, saya memastikan apa yang mereka lakukan. Astaghfirullah,  ternyata setip tersebut di empat sisinya ditulis huruf A,B,C,dan D layaknya dadu.

Saya tegur mereka. Tanpa merasa bersalah atau pun berdosa  peserta didik yang masih duduk dibangku madrasah kelas 7 dan 8 tersebut menghentikan lakunya.

“Apa sulit?”, yanya saya.

“Ya, Pak!”, jawabnya tegas.

“Dapat membaca tulisan Arab itu? Dan apa tahu maksudnya?”

Mereka diam. Hal tersebut mengindikasikan keraguan dan sekaligus ketidak pastian.

Sebagai pendidik, saya prihatin.  Keprihatina saya terwujud ke dalam beberapa masalah:

  1. Benarkah peserta UTS ini memang belum dapat membaca tulisan Arab (Al-Quran)?
  2. Tepatkah penyamaan materi keagamaan(khususnya bahasa Arab) untuk anak-anak MTs khususnya yang meraka itu tidak semua berasal dari madrasah ibtidaiyah (MI)?
  3. Karakter mana dan apakah yang mesti dimiliki peserta didik sehingga mereka berani jujur menjawab sebisanya (dalam arti positif)?

Tentu masih banyak hal dapat didiskusikan.

Waktu terus berjalan. 90 menit yang disediakan untuk mengerjkan 40 soal terasa sangat panjang. Berkali ulang  pun soal-soal itu dibaca, tidak datang  juga kepastian jawaban yang harus dituliskan. Karena, prasyarat untuk mengikuti pelajaran Bahasa Arab di MTs tersebut belum/tidak dimiliki oleh peserta UTS.

Bagaimana dengan peserta didik di madrasah/sekolah Anda?

Kok, Pakai Ujian

 

Peserta didik SMP/MTs kelas 9  Daerah Istimewa Yogyakarta direncanakan mengikuti TPM (Tes Pendalaman Materi) atau latihan ujian nasional sebanyak enam kali. Diantara tujuan utamanya adalah agar seluruh peserta Ujian Nasional (UN)  tahun 2012/2013 dapat lulus.  Sebuah program yang luar biasa. Sampai saat ini (16/1-2013) sudah dilaksanakan dua kali. Hasil TPM II  lebih baik daripada TPM I.  Hal menunjukkan adanya kenaikan prestasi. Dan diharapkan pada saat UN dilaksanakan nanti (22/4-2013) seluruh peserta didik sudah siap secara mental maupun meterial dalam mengerjakan soal UN.

Sebagian besar peserta didik kelas 9 menyambut baik didakannya TPM berulang kali ini. Mereka mengharapkan dapat benar-benar terampil dalam mengerjakan soal UN. Namun, ada peserta didik  yang cuek dengan pelaksanaan TPM ini. Saya ambil contoh beberapa peserta didik di tempat saya bertugas.  Ada beberapa peserta didik yang memang ogah-ogahen mengikuti TPM. Jangankan TPM, pendalaman materi atau les yang dilaksanakan pun tidak diikuti. Mereka seperti tidak punya beban dengan ujian.

“Kok, sekolah pakai ujian to, Pak?”

“La apa maumu? Selesai kelas 9 langsung lulus?” tanya saya kepada peserta didik.

“Saya sudah bosen, Pak. Kan bisa langsung diberi ijazah. Kami sudah tiga tahun belajar, nanti sama saja dengan yang ikut ujian Kejar Paket B. Ijazahnya juga sama.”

Memang sangat terasa. Pelaksanaan ujian Kejar Paket, baik A, B, maupun Kejar Paket C seakan formalitas.  Dan itu tidak menjadi rahasia lagi. Artinya, bagaimana pelaksanaan ujian Kejar Paket tersebut sudah banyak diketahui oleh masyarakat. Bahkan hampir dapat dipastikan lulus. Itu satu diantara sebab peserta didik malas mempersiapkan diri mengikuti UN.

“Apa nanti kamu tidak malu kalau tidak lulus?”

“Alah, Pak. Ikut paket B. Itu si Tono (bukan nama sebenarnya) nyatanya dulu belum lulus kejar paket malah sudah diterima di SMK. Dan sekarang di SMK sama saja dengan yang lulus UN”!

Itu juga sebuah kenyataan. Pengalaman tahun-tahun lalu ada beberapa anak yang belum lulus SMP/MTs, juga belum punya ijazah kejar paket B, tetapi sudah dapat sekolah di jenjang yang lebih tinggi (SMA/SMK).   Bahkan ada beberapa SMA/SMK memberikan jaminan pemberlakuan hak yang sama antara peserta didik yang menganthongi ijazah SMP/MTs dengan yang belum lulus. Inilah yang memicu peserta didik kelas 9 SMP/MTs kurang bergairah mempersiapkan diri untuk ujian.