Musti Gurukah yang Disalahkan?

“Para siswa, apa layak minta lulus apabila kamu semua saja males belajar?”. “Layak, Bu…!”, jawab siswa kelas 9 serentak. “Sekarang untuk para siswa kelas 7 dan 8, kamu ternyata juga males belajar. Apakah layak dan pantas kamu minta naik kelas?”. Serentak siswa kelas 9 yang menjawab, “Tidak, Bu…”.

Dialaog terbuka tersebut terjadi saat pembina upacara memberikan pembinaan pada Senin pagi kemarin. Bu guru tetap bersemangat dengan memberikan nasehat dan semangat agar seluruh siswa giat belajar. Sangat terasa, guru tersebut memahami kenyataan yang ada pada diri siswanya.

Sangkaan jarang atau bahkan tidak mau belajar merupakan jawaban pasti. Hanya dengan hitungan jari saja dari 456 siswa yang datang di sekolah setiap hari merasa bahwa dirinya punya kewajiban belajar. Bila guru menanyakan apakah malamnya belajar, jawaban yang keluar dari mulut yang masih lumayan jujur adalah tidak. Atau diam. Atau saling melihat sesama siswa. Continue reading

MADRASAH MASIH BANYAK MASALAH (!?)

Regulasi pendidikan pada orde reformasi ini sangat cepat. Dari undang-undang, peraturan-peraturan, sampai surat edaran yang terkait dengan pendidikan sangat lumayan banyak. Dan, dari seluruh aturan pendidikan tersebut nyaris tidak ada lagi dikotomi: sekolah-madrasah. Namun, masih ada saja yang punya anggapan bahwa masih ada diskriminasi   pemerintah dalam menyikapi anak bangsa, yang di sekolah dan yang di madrasah. Pemenuhan tentang standar biaya, misalnya.

Kita ambil contoh di Yogyakarta. Sekolah, selain mendapat BOS sebagaimana yang diterima Madrasah juga mendapat BOSDA.  Keterpautan pembiayaan tersebut sangat dirasa akan berakibat kepada kinerja. Yang terpenuhi pembiayaannya selalu dikesankan   memiliki mutu lulusan yang lebih baik. Hal tersebut dapat kita lihat dari hasil ujian akhir 2010/2011 kemarin. Continue reading

PENDIDIKAN KITA: PASTI DILULUSKAN

Lulus, adalah kata akhir dari sebuah perjuangan pendidikan. Lulus selalu didambakan oleh peserta didik maupun tenaga pendidik. Namun, akhir-akhir ini kata lulus tidak lagi menjadi kata yang angker; sehingga harus diusahakan seoptimalnya. Bukti telah berbicara, “Ah, paling nanti nilai juga dikatrol!” Atau adalam bentuk ucapan yang lain, “Lulus, masak nilai sekolah (NS) tidak akan ditinggikan. Pasti malulah sekolah kalau nanti banyak yang tidak lulus!”. Tentu masih banyak kata-kata lain yang bermaksa serupa.

Lalu, tingginya kelulusan tahun ini, 2010/2011, apakah mengindikasikan bahwa memang mutu penedidikan kita dah baik? Atau, pernyataan miring di atas adalah sebuah kenyataan? Ini yang harus ditelusur sampai mendapat sebuah generalisasi yang hampir pas. Continue reading

Kebergamaan Siswa Kita

Madrasah. Adalah sebuah kata yang terkandung makna di dalamnya  pembelajaran keislaman. Siswa madrasah selalu dianggap memiliki nilai lebih dalam hal agama. Tentu saja nilai keagamaan tersebut (seharusnya) juga tercermin dalam perilaku dalam kehidupan para siswa tersebut.  Karena itu, dalam kesempatan lomba keagamaan antarpelajar, siswa madrasah tidak masuk dalam kriteria peserta. Siswa madrasah  pasti memiliki tingkat keberagamaan yang lebih dari siswa sekolah umum.  Benarkah pendapat tersebut? Continue reading

UN 2010 SLTA YOGYA: LUAR BIASA

Catatan khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakrta (DIY) dari Pak Nuh, “Tahun lalu cukup bagus sekitar 93 persen (tidak mengulang), tetapi sekarang yang mengulang 23,70 persen dan 77 persen tidak mengulang. Ini daerah Jawa yang paling besar yang mengulang dari sisi persentase”.

Luar biasa.

Ungkapan tersebut bermakna bias. Tergantung dari sudut pandang mana kita akan memaknai terkait dengan hasil UN SLTA DIY tahun ini. Selama ini Yogya selalu menajdi ikon pendidikan di Indonesia. Kota pelajar, ya Yogya. Bahkan tidak sedikit, pelajar yang –katanya- berprestasi di daerah (baca luar Jawa), bila masuk sekolah Yogya harus mengalami dan melalui ini dan itu dulu. Pengalaman membuktikan, beberapa siswa dari luar terpaksa harus dipindah ke sekolah pinggiran Yogya karena dinilai sulit mengikuti lajunya pembelaran dalam satu kelas/sekolah anak-anak  Kota Yogya.  Tentu ini tidak berlaku sebagai generalisasi.

Belum hilang dari ingatan saya. Ini terjadi dalam perjalanan saya dari Kotabumi, Lampung Utara ke  Tanjung Karang. Dalam kendaraan umum yang saya naiki, ada percakapan dua orang  Bapak  tentang anaknya. Satu Bapak  asal Palembang begitu semangat dan bangganya menceritakan bahwa anak-anaknya dapat sekolah/kuliah di Yogya. Agar anak-anaknya dapat mengenyam dan menimba ilmu di Yogya, semua anaknya selulus SMP harus sudah dipindah di Yogya. Tidak tanggung-tanggung,  anak-anaknya disewakan rumah sehingga dalam satu keluarga dapat menempat dalam satu rumah. Continue reading

UAMBN MTs, DUH…!

“Pak, ini ujian berstandar nasional?”

suara seorang guru PAI sambil memegang lembaran soal materi ujian saat itu yang ditujukan kepada saya.

“Coba, soal tidak jelas perintahnya. Ini siswa diminta mengerjakan bagaimana?. Belum lagi lembar jawabnya. Benar-benar memalukan,”

gerutu guru tersebut.

Setelah saya baca, ternyata sangatlah pantas bila guru tersebut menggerutu. Soal tidak disertai petunjuk atau perintah yang jelas. Petunjuk umum pada lembar pertama siswa agar mengerjakan di lembar LJK, tapi? “Pak, mana LJK-nya? Masa seperti ini? Lalu, cara mengerjakannya bagaimana, Pak?” tanya seorang siswa dengan nada keheranan. Akhirnya disepakati, siswa cukup menyilang pilihan pada lembar jawab. Siswa tidak perlu mengerjakan seperti pelaksanaan Ujian Nasional yang lalu.

Continue reading

Murid Baru = Seragam Baru

Tidak ada kepastian hukum memang, bahwa murid maru harus membeli seragam baru.  Kenyataan yang ada memang dirasa berbeda, terbukti sebagian besar sekolah/madrasah menerapkan seragam baru bagi  murid baru. Kenyataan ini yang sering menimbulkan masalah, pro dan kontra. Meskipun sering muncul pernyataan dari para petinggi pendidikan, bahwa sekolah tidak harus menerapkan pakaian seragam bagi muridnya, namun kenyataannya hanya sedikit sekolah/madrasah yang menepati pernyataan tersebut.  Pakaian seragam dijadikan salah alasan menyulitkan pembiayaan pendidikan.

Lain dengan kenyataan di lapangan. Sekolah/madrasah terkadang dibuat bingung juga. Satu sisi akan menerapkan tidak wajib menggunakan pakaian seragam agar tidak memberarkan murid/orangtua, sisi lain kerapian dalam berpakain menjadi satu indikator ketertiban dan kerapian.  Juga, tidak sedikit orang tua yang menghendaki adanhya pakaian seragam bagi anaknya. Mereka bangga apabila anaknya menggunakan pakaian seragam sekolah. Yang lebih penting lagi, dengan pakaian seragam anak akan mudah dikenali. Continue reading

Guru Madrasah

Samakah guru madrasah dengan guru pada sekolah umum? Jawabnya beragam. Dapat sama. Dapat pula berbeda. Perbedaan jawaban tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya. Secara umum  setiap guru memiliki kompetensi sama. Namun, ketika  ada yang mengatakan bahwa dirinya mengajar di madrasah, orang yang mendengar langsung memiliki prasangka guru tersebut memiliki kompetensi keberagamaan lebih.

Perlu ditindaklanjuti anggapan  tersebut. Benarkah guru madrasah rata-rata memiliki kompetensi keberagamaan lebih daripada guru di luar madrasah? Jawaban atas masalah tersebut adapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, aktifitas guru tersebut dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keberagamaan dalam hidup kesehariannya. Kedua, guru madrasah banyak terlibat dalam kegiatan keagamaan, baik di madrasah maupun di masyarakat. Ketiga, kegiatan keagamaan di madrasah lebih banyak dan lebih berkualitas. Keempat, tingkat keberagamaan siswa madrasah lebih dari pada siswa sekolah umum. Tentu masih ada aspek lain yang dapat mencirikan kompetensi keberagamaan guru madrasah. Continue reading

Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah

Bagi madrasah, pengawas hanya ada satu:  pengawas PAI.  Pengawas tersebut benar-benar “hebat”. Orang Yogya menyebutnya pengawas Raden Ngabehi. Raden Ngabehi bukan gelar keraton. Tidak lebih sekedar bahasa sindiran untuk para pengawas yang serba bisa dan serba tahu tersebut. Toh kenyataannya mereka sadar tidak kompeten, namun aturanlah yang memaksanya menjadi itu.

Pengawas di madrasah (Departemen Agama)  memiliki tugas yang berat. Selain mengawasi kinerja para guru PAI, beliau juga harus mengawasi guru mata pelajaran umum. Apa ini tidak hebat? Bayangkan saja, pengawas yang memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Arab, karena jabatannya harus mengawasi mata pelajaran lain. Hasilnya? Continue reading