Pembelajaran Sastra

Siswa kita pinter apresiasi sastra? 

Sulit menjawab pertanyaan di atas.  Kenyataan yang ada,  siswa tidak kita ajari bagaimana  mengapresiasi karya sastra. Selama ini siswa cukup kita ajari teori dan sejarah sastra.  

Apakah guru tidak terampil mengapresiasi karya sastra?

Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Ini butuh penelitian.  Jika kita baca Horizon,  banyak  ditemukan adanya guru yang kurang terampil mengapresasi sastra. Akibatnya,  para siswa pun juga tidak terampil mengapresiasi. Akibat fatal kecintaan terhadap karya sastra sangat rendah.

Apa solusinya?

Madrasah Masa Kini

Madrasah diharapkan bisa berdiri sama tinggi-duduk sama rendah dengan sekolah di bawah Dinas Pendidikan. Namun, sampai saat ini, dari sisi akademis masih ada kesenjangan. Kesenjangan dalam kualitas lulusannya. Meski tidak bisa dikatakan seratus persen beda, namun .secara umum demikian adanya. Paling tidak, dari hasil UN masih sangat berjarak.

Apa dan mengapa bisa demikian? Untuk mandapat jawaban tentu diperlukan kajian khusus. Standar minimal pendidikan bisa dijadikan parameter terjadinya perbedaan itu. Sarana-prasarana, misalnya. Banyak madrasah yang masih sangat minim akan kecukupan standar miniml sarananya. Komputer, laboraturium IPA, bahasa, IT masih sedikit yang memiliki. Perpustakaan jauh dari memadai. Itu yang kelihatan secara umum. Belum lagi sarana yang terkait dengan media pembelajaran.

Tenaga pendidik di madrasah masih banyak yang tidak sesuai dengan ijazah keahliannya. Guru yang pas pun, kurang mendapat perhatian serius dari lembaga terkait -(baca Departemen Agama-). Jarang kita dengar guru madrasah mendapat pelatihan/pendidikan untuk meningkatkan keprofesionalannya. Pelatihan yang ada pun terkesan masih berorentasi pada “asal”. Bukan pada hasil. Akibatnya pelaksanaannya kurang serius dan kurang profesional. Tindak lanjut dari pelatihan pun jarang dilakukan.

Pengawas pendidikan di madrasah juga merupakan masalah tersediri. Pengawas yang ada belum semua menguasai tupoksinya. Alasan yang kuta adalah latar belakang pengawas tersebut. Bukan rahasia lagi, seakan pengawas adalah “penyelamatan” bagi para pegawai Depag yang “kurang produktif lagi”. Akibatnya, tidak sedikit pengawas yang tidak menguasai materi ketugasannya.
Sebenarnya, dari pengawas tersebut kekurangprofesionalan guru bisa terdongkrak. Selama belum ada perubahan cara pengadaan pengawas di Depag, selama itu pula optimalisasi pengawas tidak berhasil guna.

Kembali ke tenaga pendidik.
Dengan PP 74 tahun 2009 tentang guru, harusnya guru Depag secara pelan harus pasti ada perubahan positif. Usaha dari Depag maupun usaha mandiri guru untuk memenuhi keprofesionalannya tidak bisa ditawar lagi. Ini jika pendidikan di bawah Depag tidak aka ketinggalan semakin jauh dari lainnya.