Madrasah Masa Kini

Advertisement

Madrasah diharapkan bisa berdiri sama tinggi-duduk sama rendah dengan sekolah di bawah Dinas Pendidikan. Namun, sampai saat ini, dari sisi akademis masih ada kesenjangan. Kesenjangan dalam kualitas lulusannya. Meski tidak bisa dikatakan seratus persen beda, namun .secara umum demikian adanya. Paling tidak, dari hasil UN masih sangat berjarak.

Apa dan mengapa bisa demikian? Untuk mandapat jawaban tentu diperlukan kajian khusus. Standar minimal pendidikan bisa dijadikan parameter terjadinya perbedaan itu. Sarana-prasarana, misalnya. Banyak madrasah yang masih sangat minim akan kecukupan standar miniml sarananya. Komputer, laboraturium IPA, bahasa, IT masih sedikit yang memiliki. Perpustakaan jauh dari memadai. Itu yang kelihatan secara umum. Belum lagi sarana yang terkait dengan media pembelajaran.

Tenaga pendidik di madrasah masih banyak yang tidak sesuai dengan ijazah keahliannya. Guru yang pas pun, kurang mendapat perhatian serius dari lembaga terkait -(baca Departemen Agama-). Jarang kita dengar guru madrasah mendapat pelatihan/pendidikan untuk meningkatkan keprofesionalannya. Pelatihan yang ada pun terkesan masih berorentasi pada “asal”. Bukan pada hasil. Akibatnya pelaksanaannya kurang serius dan kurang profesional. Tindak lanjut dari pelatihan pun jarang dilakukan.

Pengawas pendidikan di madrasah juga merupakan masalah tersediri. Pengawas yang ada belum semua menguasai tupoksinya. Alasan yang kuta adalah latar belakang pengawas tersebut. Bukan rahasia lagi, seakan pengawas adalah “penyelamatan” bagi para pegawai Depag yang “kurang produktif lagi”. Akibatnya, tidak sedikit pengawas yang tidak menguasai materi ketugasannya.
Sebenarnya, dari pengawas tersebut kekurangprofesionalan guru bisa terdongkrak. Selama belum ada perubahan cara pengadaan pengawas di Depag, selama itu pula optimalisasi pengawas tidak berhasil guna.

Kembali ke tenaga pendidik.
Dengan PP 74 tahun 2009 tentang guru, harusnya guru Depag secara pelan harus pasti ada perubahan positif. Usaha dari Depag maupun usaha mandiri guru untuk memenuhi keprofesionalannya tidak bisa ditawar lagi. Ini jika pendidikan di bawah Depag tidak aka ketinggalan semakin jauh dari lainnya.

5 thoughts on “Madrasah Masa Kini

    1. Terimakasih. Tulisan tersebut sepintas, saat saya diajari anak buat blog. Semoga kita nanti bisa banyak berbagi.

  1. setuju, tida semua madrasah jeblok. banyak madrasah yang punya reputasi di atas sekolah, koq. “ketidakadilan” memang sudah menyertai madrasah ini sejak dari awal. tengok aja rasio anggaran antara sekolah diknas dengan madrasah depag. ibaratnya, anggaran 10 madsarah setara dengan 1 sekolah dinkas. saya masih ingat pernyataan salah satu rektor iain di awal 1990an: anggaran 14 iain seindonesia ternyata masih lebih rendah dibanding anggaran 1 ikip negeri.
    saya dengar anggaran untuk madrasah pasca reformasi telah dinaikkan. semoga makin baik dan ada proges menuju madrasah yang semakin bermutu. jelek jelek begini saya produk madrasah lho. he he he.

    terus menulis mBah Zus, dan TETAP SEMANGAT!!!

  2. Cita cita .
    As w w .
    Jika ingin jadi dokter,Ir,Tent, Polisi,dll, yuk ke sma dulu, SMA “17? 1 Yogya, jl.Tentara Pelajar 24 YK. ( 0274 ) 52 12 25, HP : 081 903 75 73 02. Tulis cita cita mu setinggi bintang dilangit, rendahkanlah hati kita sedalam mutiara dilaut. Was w w.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *