Pemilu Lucu

Pemilu legeslatif telah berlalu. Namun, masih banyak menyisakan cerita lucu.  Ketika banyak kabar tentang politik uang, Mbok Sapar tidak ketinggalan. Penjual pecel pincuk itu memiliki pengalaman ang tak kalah lucu dengan lainnya.

“Mbok,  pemilu ini Jenengan dapat uang berapa?”

” Al-hamdulillah, Mas. Dari caleg biru  dapat Rp 10.000,00;  dari caleg srengenge suminar dapat Rp 20.000,00; dan tadi pagi bakda subuh dapat dari caleg lombok abang Rp 20.000,00″.

“Lho, lumayan Mbok, Jenengan dapat uang banyak”.

“Iya, Mas. Saya tadi khan tidak jualan”.

“E, Mbok, Maaf. Jenengan tadi pagi pilih apa?”

“Saya to, Mas?  Terus terang, saya tidak memilih apa-apa.  Lha,  saya datang ke tempat nyontreng saja tidak. Saya tidak dapat undangan nyontreng, kok Mas”.

O…

RENUNGAN KARTINI-AN

AIR MATA KARTINI

Usaha Kartini untuk mengangkat harkat martabat kaumnya di bumi Indonesia telah berhasil. Jika saat itu wanita sekedar berperan dan diposisikan sebagai pelengkap, pun penderita, kini telah sejajar. Bahkan,kesejajarannya telah keblablasan. Banyak wanita yang melampaui kodratnya. Segala yang dilakukan kaum pria, hendak ditirunya.
Kartini tetap menginginkan wanita tetap dalam kodratnya. Terlebih sebagai orang timur yang mengedepankan nilai-nilai luhur. Namun, wanita kini telah jauh dari nalai-nilai ketimuran tersebut. Budaya barat telah banyak mempengaruhi pola dan corak hidup wanita kita. Mungkinkah Kartini akan rela melihat kaumnya bila saat ini masih ada?
Kartini adalah sosok wanita religius pada masanya. Melihat kaumnya saat ini pastilah meneteskan air mata. Bukan air mata kebahagiaan. Sebaliknya, air mata kesedihan. Terlebih, saat ini banyak wanita yang sengaja menujual dirinya demi kepuasan nafsunya.
Tentunya, peringatan hari Kartini menjadi tonggak untuk menggali secara arif akan nilai-nilai yang dijuangkan Kartini. Bukan malah sebaliknya. Ada yang merasa telah melestarikan ajaran Kartini, sekedar dia juara nyanggul rambutnya; bangga karena juara megal-megolkan bokong alias senam dengan pakaian super ketat mengundang birahi. Dan ironsnya, banyak wanita yang berpakaian rapi, menutup auratnya demi kehormatan pribadinya menjadi bahan cibiran karena sekedar tidak bersanggul dan berpakain kebaya.
Sekiranya Kartini saat ini masih hidup, pastilah akan memilih berpakaian rapi, rambut tertutup, dan tidak akan membiarkan wanita mengumbar tubuhnya menjadi tontonan mata setan.