Bingung Dengan Sertifikasinya

Advertisement

Saat ini banyak guru bingung. Bingung gara-gara sertifikasi. Yang sudah luluslah  portofolio, dan menyandang sertfikat keprofesionalannya, bingung menunggu kapan cair duitnya. Yang belum lolos portofolio, bingungharus mengikuti PLPG. Yang belum lulus PLPG, bingung harus mengulang dengan segala “kemaluannya”. Yang belum mendapat jatah/panggilan sertifikasi pun bingung. Sekarang, guru yang tidak/belum  sarjana, telah menjadi guru lebih 20 tahun, umur minimal 50 tahun,   dulu tidak berfikir akan mendapat kesempatan sertifikasi,  ternyata menjadi bagian yang paling bingung.

Bayangkan, mereka para guru tua. Tua usianya, tua pengalamannya, tua dan mulai rapuhs semangatnya, tiba-tiba mendapat panggilan sertifikasi. Luar biasanya bingungya. Tidak sedikit guru yang mencari tenaga pembantu dadakan.  Berikut sebagian kisahnya.

Siang yang sangat panas dan gerah itu memaksa keringat harus mengucur deras. Wajah kuyub akan peluh. Tak sempat lagi mengusap wajah yang kuyu, lelaki di atas 55 tahun itu  datang di Taman Bunga dengan GL 100-nya. “Mas, ada blangko sertifikasi?”

“Tidak, Pak. Minta saja Bapak ke Dinas Pendidikan!”

“Mas, saya tidak punya modal apa-apa. Waktunya mepet. Mas, bisa tidak membuatkan!”, mohon Bapak itu.

Guru tua dengan sepatu luthuk, pakaian terlihat kusut dan telah memudar warna kekinya, segera menuju Dinas Pendidikan Gunungkidul. Tak lama,  suara GL-100 terdengar dekat karena berhenti di Copy Center Taman Bunga.

“Mas, tolong, saya dibuatkan ini!’, sembari menyodorkan kertas bertulis identitas diri. Yang kurang dilengkapi saja, Mas. Saya benar-benar tidak punya apa-apa untuk sertifikasi’!

Cerita lain.

“Sibuk, Mas Rosyid?”,

sapa saya ketika saya ambil RO di rumahnya.

“Ya. Saya dimintai tolong 4 guru untuk menyusunkan portofoilio. Kalau datanya lengkap saja mudah. Ini banyak yang tiak punya apa-apa. Data pendukung sangat minim”.

Nah, kalau sudah begini yang dimintai tolong pun bingung juga.

Ada yang bingung lagi. Murid. Kelas banyak kosong,  tidak ada guru yang mengajar.

“Lho, kok di luar? Apa tidak pelasjaran?”

“Guru ngurus nasib, katanya”,

jawab para murid dengan keluguannya. Meski tidak semua murid paham apa yang menyibukkan gurunya akhir-akhir ini.

Lalu…?

Yang baru dipanggil untuk melengkapi portofolio, bingung mencari pemenuhan nilainya. Yang merasa tidak memenuhi syarat, bingung, kok bisa.

Semua akhirnya bingung.

Siang itu, Selasa, 12 Mei 2009. Dengan penuh peluh, seorang guru tergesa dengan tanyanya,

“Mas, ada blanko sertifikasi, ya?”

“Di Dinas, Pak”,

jawab Mas Mamad singkat.

“Anu,lho, Mas. Aku ini tidak modal apa-apa. Jika bisa, saya mau pesan. Yang penting jadi.”

“Dhuh, Pak, mohon maaf. Tidak ada”.

Pak Guru dengan keluguannya itu pun pergi ke Dinas Penidikan. Tak lama kembali dengan selembar kertas bertuliskan data diri.

“Mas, ini Mas. Tolong, diluangkan. Ini nasib, Mas. Dibuatkan”

Dengan sigapnya Mas Mamad melayani Pak Guru.

“Ni, Pak, sudah”.

“Lho, cepat, to Mas? Terus lampirannya apa saja ini?”.

Pak Guru itu bertanya tanpa jawab.

“Dah, Mas. Terimakasih”.

Pak guru tersebut mungkin sebagian kecil dari korban sertifikasi. Meski sudah hampir diujung pensiun, malah mungkin belum selesai menyiapkan administrasinya sudah pensiun. Namun, harapan untuk bisa menikmati tambahan tunjangan yang lumayan.

2 thoughts on “Bingung Dengan Sertifikasinya

  1. ya, kita hargai semangat para guru sepuh itu. lebih baik bingung menuju kemajuan dari pada diam, tidak bergerak. saya yakin banyak hikmah di balik kebingungan mereka yang telah lama jadi korban salah urus dunia pendidikan. namun, akan lebih elok jika uasaha mendapatkan hak-hak para guru tersebut dilakukan tanpa mengorbankan kewajiban mereka. TETAP SEMANGAT PAK GURU!!!

  2. Beberapa sodara saya juga melakukan hal yang sama .. yang sudah S1 saja masih mbulet gak karuan mbak ngurus ini dan itu .. apalagi yang masih kuliah di UT (Universitas Terbuka).
    Dari ceritanya mbak faizuz sih sangat miris sampai2x menelantarkan para murid demi mendapatkan tambahan suapan nasi 🙂
    Semoga para guru yang sempat lalai akan pengabdiannya segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar sesuai dengan apa yang diimpikan para muridnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *