Berprestasi Tidak Lulus UN

Advertisement

Siang itu begitu riuh ketika Kepala Sekolah mengumumkan siswa-siswa berprestasi. Ucapan syukur mengiringi para siswa menaiki panggung kehormatan untuk menerima penghargaan. Di tengah kesyukuran itu, ada wali siswa yang bergumam, “Lho, ini sudah wisuda. Apa jelas  para siswa ini lulus?”

Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan mengiayakan dari seorang Bapak dari satu di antara siswa yang berprestasi itu. “Iya. Belum ada pengumuman kelulusan, kok sudah diwisuda. Jangan-jangan banak yang tidak lulus”.

Resepsi wisuda dan pelepasan siswa kelas 12 berakhir menjelang dhuhur. Selam menyalam antarsiswa kelas 12 pun disusul salam menyalam adik kelas. Wajah tidak sedikit pun menunjukkan kedukaan. Itu berlangsung sampai dhuhur. 

USai dhuhur,  peserta ujian itu dipanggil ke dalam kantor satu  per satu. “Bagaimana?” tanya seorang siswa menanyai teman yang lunglai bak pesakitan menerima putusan hukuman berat. “Aku tidak lulus. Ini suratnya!”

Yang lain pun segera mengerumuni dan berusaha melihat dan membaca kejelasan isi surat tersebut. Rasa was-was menyeruak ke dada semua siswa yang belum mendapat panggilan. Lulus atau tidak lulus. “Masa, siswa berprestasi tidak lulus.  Jangan-jangan aku juga tidak lulus”, celetuk siswa lainnya.  Tak lama kemudian, semua mata tertuju ke pintu tempat masuk dan keluarnya siswa menerima hasil ujian.  “Sama, aku juga tidak lulus. Matematikaku jatuh”. “Tapi, kamu jagonya matematika. Wah, ini bahaya. Pasti banyak yang tidak lulus”, timpal siswa lain.

Benar. Kesebelas siswa laki-laki itu terpaksa hanya satu siswa yang lulus.   Paras siswa yang naik panggung kehormatan dan dinyatakan sebagai siswa berprestasi ternyata tidak ada yang lulus. Wajah terpendam. Rasa malu, bingung,  kecewa, dan segala rasa kesal mengental menjadi satu di dalam dada. Untungnya, mereka setiap waktu diajarkan tentang takdir.  Pasrah dan menerima kenyataan akhirnya menjadi pilihan tepat mereka.

Di luar sana , sekolah lain, yang KBM-nya saja senin-kemis; para siswanya dapat dikatakan jauh dari tertib; ternyata hampir seratus persen lulus. Dan itu tidak hanya terjadi disatu sekolah saja. Ini kenyataan. Sungguh kenyataan ini. Ujian Nasional benar-benar bertentangan dengan ajaran Laskar Pelangi: Di sini, sekolah ini tidak mengukur keberhasilan siswa dengan angka-angka. Sekolah ini mengajarkan moral, mengajarkan akhlakul karimah. Dan, Ujian nasional cukup mengukur dengan angka-angka.

Kasihan mereka yang jadi korban Ujian nasional. Keprestasiannya; akhlak budinya ternyata tidak bisa mempengaruhi keberhasilan sekolahnya. Inilah pendidikan Indonesia Raya.

Kata akhir; kata pelipur lara,”Yang lulus belum tentu lebih cepat berhasil. Sabarlah, Nak“.

2 thoughts on “Berprestasi Tidak Lulus UN

  1. Inilah potret Indonesia kita.
    Kita banyak terjebak pada angka…
    Sementara diluar sana, keberhasilan seseorang tidak berbanding lurus dengan angka yang diraih dari Ujian. Lihat Bill Gates, lihat steve jobs, lihat Purdi E Chandra dan banyak lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *