Susahnya Untuk Sholat

Dalam benak saya, madrasah adalah sekolah agama. Paling tidak pelajaran agama akan lebih banyak daripada sekolah umum. Ini pun terbukti. Dalam struktur kurikulum madrasah (baca MTs)  pelajaran PAI ada  6 jam di tambah 2 jam bahasa Arab. Sedangkan di sekolah umum hanya ada 2 jam.

Harusnya, siswa madrasah lebih baik beribadanya  dan memiliki kualitas keimanan yang prima.  Ternyata tidak sepenuhnya benar. Pengalaman dan kenyataan tersebut saya rasakan sejak tahun 1992,  pertama kali saya menjadi guru di sebuah MTs.  Kumandang adzan tidak segera disambut dengan bergegas ke tempat wudlu. Siswa harus di”uyak-uyak”, digiring, bahkan dipaksa agaar mau malksanakn sholat.  Sekali lagi, meskipun ini tidak mewakili semua madrasah, namun ini yang penulis rasakan di beberapa MTs di Gunungkidul. Continue reading “Susahnya Untuk Sholat”

Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU

Meskipun pemerintah tidak mengahruskan seragam sekolah, tetapi kenyataannya hampir semua sekolah menetapkan segaram bagi peserta didiknya.  Peringatan  pemerintrah, agar sekolah tidak  mengadakan/mewajibkan apalagi mengelola pengadaan seragam ternyata tidak sepernuhnya mendapat perhatian pengelola sekolah. Ada saja alasan agar (akhirnya) sekolah mengelola seragam. Tidak rahasia lagi,  setiap sekolah yang mengelola seragam bagi peserta didiknya,  ada keuntungan yang pasti didapatnya.

Di Yogya misalnya. Adanya larangan sekolah mengelola pengadaan seragam, tidak mengurungkan usaha pengelola sekolah agaar bisa tetap mengelola. Bahasa dan caranya saja yang (sedikit) berbeda.  Satu di antara usaha tersebut adalah dengan cara menggiring siswa/para wali agar sekolah memfasilitasi pengeadaan seragam. Lalu, dibuatlah surat (yang seakan-akan datangnya  dari wali) yang isinya permohonan. Permohonan kepada sekolah agar difasilitasi pembelian seragam.  Surat dari wali tersebut dijadikan bukti bahwa ada permintaan dari wali kepada sekolah.  Continue reading “Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU”

Murid Baru

Tidak hanya anak yang bingung. Orang tua pun lebih bingung.  Ketika hari penerimaan calon anak didik baru tiba, menyemut orang tua dengan anaknya menuju sekolah yang difaforitkan. Mereka itu rata-rata siswa yang memiliki angka hasil ujian nasional bagus. Namun, nilai bagus pun tidak cukup.  Orang tua harus berduit. Lho? Iya, sebab semurah-murahnya sekolah faforit duitnya pasti banyak.  Dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Ada siswa yang memiliki nilai lumayan bagus, rata-rata 9. Ketika ditanya mengapa tidak ke sekolah faforit, jawabnya sangat enteng,

“Tidak punya biaya. Sekolah di sana mahal”.

Lalu bagimana dengan iklan sekolah gratis?  Tentang sekolah gratis ini ada cerita menarik.  Maghrib itu saya pulang dari Yogya. Super Cup 83 yang saya naiki ternyata kempes di jalan.  Saya cari tukang tambal ban. Sambil menunggu hasil tambal jadi, ngobrollah saya dengan si Bapak dari 10 anak itu.  Continue reading “Murid Baru”