Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU

Advertisement

Meskipun pemerintah tidak mengahruskan seragam sekolah, tetapi kenyataannya hampir semua sekolah menetapkan segaram bagi peserta didiknya.  Peringatan  pemerintrah, agar sekolah tidak  mengadakan/mewajibkan apalagi mengelola pengadaan seragam ternyata tidak sepernuhnya mendapat perhatian pengelola sekolah. Ada saja alasan agar (akhirnya) sekolah mengelola seragam. Tidak rahasia lagi,  setiap sekolah yang mengelola seragam bagi peserta didiknya,  ada keuntungan yang pasti didapatnya.

Di Yogya misalnya. Adanya larangan sekolah mengelola pengadaan seragam, tidak mengurungkan usaha pengelola sekolah agaar bisa tetap mengelola. Bahasa dan caranya saja yang (sedikit) berbeda.  Satu di antara usaha tersebut adalah dengan cara menggiring siswa/para wali agar sekolah memfasilitasi pengeadaan seragam. Lalu, dibuatlah surat (yang seakan-akan datangnya  dari wali) yang isinya permohonan. Permohonan kepada sekolah agar difasilitasi pembelian seragam.  Surat dari wali tersebut dijadikan bukti bahwa ada permintaan dari wali kepada sekolah. 

Hal di atas dapat dimaklumi. Lalu,  adakah selisih harga bahan seragam tersebut  antara di toko dengan di sekolah?  Dhalang tidak kurang lakon. Siapa dhalangnya? Tentu saja yang bisa ngotak-atik aturan yang akhirnya menguntungkan sepihak dengan agak suram-suram. Bisa dibuktikan: hampir setiap penerimaan peserta didik baru, seragamnya baru. Begitu juga para guru/karyawan sekolah tersebut, juga baru.

Namun, kita btidak perlu su’udhon terlalu jauh. Bisa-bisa harga memang sesuai yang dipathok toko. Karena sekolah telah menjadi perantara antara konsumen dengan toko, akhirnya pihak toko bagi-bagi untung. Ujudnya seragam bagi guru/karyawan.

Sedangkan motif lain? Wallahu a’lam bish-showab.

8 thoughts on “Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU

        1. Itu yang ditunggu, actionnya. Toh, dengan gaji buannnyak pun kelihatannya belum signifikan perubahannya.
          Nyali tuk nulis di media cetak, Le.

  1. Maaf, saya seorang guru … tapi baju saya tidak kemudian baru ketika PSB telah berlangsung, dan anak-anak mengenakan seragam baru. Sebagai guru, saya sangat sadar bahwa, penampilan –termasuk dalam berpakaian– harus juga menarik siswa dalam arti tidak membuat siswa bosan dan jenuh. Setalah 22 tahun menjadi guru, saya sangat faham bahwa kemudahan siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran dipengaruhi oleh penampilan guru. Itulah kenapa saya selalu menganggarkan untuk membeli baju-baju (tepatnya pakaian) yang layak untuk mengajar pada hari-hari di mana guru tidak wajib seragam.

    Tentang seragam guru, sekolah kami menganggarkannya dari APBS, dan bahan pakaian seragam guru serta bantuan ongkos jahitnya diberikan kepada guru dan karyawan termasuk para karyawan tidak tetap dan satpam pada sekitar bulan april/mei. Tegasnya, bahan pakaian dan bantuan ongkos jahit bukan dari “keuntungan” pengadaan seragam siswa, melainkan dari anggaran sekolah, yang sumbernya memang antara lain dari iuran orang tua. Bahkan, kadang kami sering mengadakan “iuran” untuk aksesoris tertentu guna memperindah penampilan kami di kala mengajar, khususnya ibu-ibu guru dan ibu-ibu karyawan. Tim TIK kami bahkan mengadakan seragam sendiri, tentu saja uangnya dengan mengiur (Jawa: urunan).

    Tentang pengadaan seragam di sekolah kami diselenggarakan oleh Koperasi Siswa, diurus oleh anak-anak yang merupakan pengurus koperasi, walaupun tentu saja didampingi oleh guru pembimbing koperasi, bukan wakasek kesiswaan, apalagi kepala sekolah.

    Terimakasih atas wacananya, saya menulis ini karena merasa tidak nyaman dengan pernyataan/judul “Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU”.

  2. Saya seorang guru smp swasta, biasanya untuk seragam baru sekolah menyediakan kain kemudian kami cari tukang jahit sendiri. Cuma setahun sekali, supaya penampilan di kelas gagah dan rapih.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *