Susahnya Untuk Sholat

Advertisement

Dalam benak saya, madrasah adalah sekolah agama. Paling tidak pelajaran agama akan lebih banyak daripada sekolah umum. Ini pun terbukti. Dalam struktur kurikulum madrasah (baca MTs)  pelajaran PAI ada  6 jam di tambah 2 jam bahasa Arab. Sedangkan di sekolah umum hanya ada 2 jam.

Harusnya, siswa madrasah lebih baik beribadanya  dan memiliki kualitas keimanan yang prima.  Ternyata tidak sepenuhnya benar. Pengalaman dan kenyataan tersebut saya rasakan sejak tahun 1992,  pertama kali saya menjadi guru di sebuah MTs.  Kumandang adzan tidak segera disambut dengan bergegas ke tempat wudlu. Siswa harus di”uyak-uyak”, digiring, bahkan dipaksa agaar mau malksanakn sholat.  Sekali lagi, meskipun ini tidak mewakili semua madrasah, namun ini yang penulis rasakan di beberapa MTs di Gunungkidul.

Kebiasaan penulis,  setiap masuk kelas pagi menanyakan siapa yang tidak sholat shubuh. Terakhir  pada hari Rabu, 29 Juli 2009. “Coba jujur, siapa yang tadi sholat shubuh?” Dari 28  siswa kelas 9 C itu, hanya ada satu anak yang tunjuk jari.  Artinya , 27 siswa lainnya tidak melaksanakan shubuh. Penulis masih  husnundzon, yang putri sedang datang bulan semua. “Yang putri, siapa yang saat ini haid?” Ada 3 siswa yang tunjuk jari. Ketika penulis tanyakan mengapa tidak sholat, siswa tiak ada yang menjawab. Ketika penulis tanyakan apakah tidak dimarahi orang tua bila tidak sholat. Jawab para siswa mengagetkan. Sebagian besar, bahkan hampir semua mengatakan tidak diingatkan apalagi kena marah orang tua.  Lho?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *