Merdeka

Advertisement

Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dari tingkat RT sampai kenegaraan tertuju pada satu peristiwa: HUT Kemerdekaan Indonesia.

Paling tidak di desaku, Ponjong, Ponjong, Gunungkidul. Kesepian malam sebulan ini terkoyak oleh keramain berbagai kegiatan untuk merayakan kemerdekaan itu. Meski tidak semua warga masyarakat desa itu tahu apa sesungguhnya makna kemerdekaan itu. Di antara mereka ada yang memaknai merdeka adalah tidak dijajah Londo lagi; tidak dijajah Nipon lagi.  Yang sudah kanjut usia, dan masih segar ingatan masa lalunya akan berapi-api menceritaakan pahitnya masa penjajahan.  Bebera kata Londo maupun Nipon masih melekat betul dalam ingatan. 

Dari cerita itu ada yang membuat saya tidak paham. Ketika jaman Nipon, misalnya,  diceritakan tentang keharusan keluarga  membuat lubang tanah di jogan masing-masing. Diharapkan lubang tersebut bisa memuat seluruh anggota keluarga.  Saat masyarakat mendengar tanda, kadang suara sirine atau kenthongan, mereka harus segera masuk kelubangan tanah itu.  Kedua tangan harus menutup kedua telingan rapat-rapat.

Ketika penulis menanyakan akan hal tersebut,  pengenang tersebut ternyata tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Tahu mereka, setiap selesai peristiwa itu harta-benda-kekayaan berkurang banyak. Ada yang sapinya hilang,  Kambingnya rahib, penenan berkurang banyak. Dan masih banyak lagi  keanehan itu.
Lalu, apakah masyrakat semua bodoh? Tidak. Sebenarnya banyak yang tahu juga. Bahwa perintah masuk lubang dan menutup telinga rapat-rapat itu untuk mengelabui saja. Sebab, setiap ada sirine atau bunyi kentongan bertalu Nipon dan anthek-antheknya akan gerilya jajah desa milang kori untuk maling kekayaan masyarakat. Masyarakat dibuat takut.

Merdeka adalah lomba makan kerupuk, lomba yang lucu-lucu. Sampai yang agak nyrempet-nyrempet bahaya, panjat pinang. Semua masyarakat pedesaan akan berpartisipasi habis-habisan. Bahkan, terkadang akibat dari aktifitasnya mengikuti berbagai lomba menyemarakkan HUT kemedekaan tersebut, mereka ikhlas. Sekali lagi ikhlas untuk sakit. Kang Paijo, misalnya. Dengan pakain daster dia mengikuti pertandingan sepak bola. Engkel dengkulnya tidak dirasakan lagi. Alhasil, ketika mengejar bola liar engkelnya kumat. Yang lain: ada yang garesnya mlenthung, Kang Hengky malah nyeplok kuku ibujarinya. Mereka tidak ada yang mengeluh. Mereka bangga akan perjuangannya mempertahankan kemerdekaan. Sakit dan loyonya badan adalah tbusan bagi para pejuang yang telah merebut kata merdeka.

Nah, ada yang sangat lucu. Namanya saja di ndesa. Acara tirakat malem 17 te lah disusun oleh panitia tingkat kecamatan atau kabupaten. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada yang terlewatkan. Termasuk pembacaan puisi perjuangan.  Puisi Aku-nya Chairil Anwar dibacakan. Nada pembacaannya pun slendro.  Yang penulis bingung, apa makna puisi tersebut bagi Yu Diyem, Kang Beja, dan masyarakat yang sebagain besar tidak tahu apa itu puisi.

Itulah kemerdekaan kita. Kemerdekaan yang sedang kita rayakan.

Namun, sudahkah masyarakat kita benar-benar merdeka?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *