Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah

Bagi madrasah, pengawas hanya ada satu:  pengawas PAI.  Pengawas tersebut benar-benar “hebat”. Orang Yogya menyebutnya pengawas Raden Ngabehi. Raden Ngabehi bukan gelar keraton. Tidak lebih sekedar bahasa sindiran untuk para pengawas yang serba bisa dan serba tahu tersebut. Toh kenyataannya mereka sadar tidak kompeten, namun aturanlah yang memaksanya menjadi itu.

Pengawas di madrasah (Departemen Agama)  memiliki tugas yang berat. Selain mengawasi kinerja para guru PAI, beliau juga harus mengawasi guru mata pelajaran umum. Apa ini tidak hebat? Bayangkan saja, pengawas yang memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Arab, karena jabatannya harus mengawasi mata pelajaran lain. Hasilnya?

Inilah masalah besar kita di madrasah.  Dalama satu sisi kita dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah, yang salama ini selalu dipandang sebagai sekolah nomor dua, namun dalam sisi lain pendukung untuk kemajuan belum tersediakan.

Februari 2010 ini misalnya, Kanwil Depag DI Yogyakarta mengadakan seleksi calon pengawas , tapi masih terbatas untuk guru PAI. Tentu pertanyaan yang kemudian muncul, apakah nanti bagi yang lolos dan diangkat menjadi pengawas di lingkungan madrasah juga akan mengawasi untuk semua guru: PAI dan mata pelajaran umum?

Satu diantara indikator keberhasilan pendidikan adalah evaluasi. Satu diantara bentuk evaluasi adalah evaluasi kinerja guru oleh pengawas yang memiliki kompetensi keguruan dan sesuai dengan keahliannya. Kenyataan saat ini bahwa jabatan pengawas sering merupakan “buangan” bagi pegawai yang akan pensiun harus segera diakhiri. Lalu, Deapartemen Agama segera mengadakan  pengangkatan pengawas untuk mata pelajaran umum.

Ini sekedar wawasan. Tentu bukan sekedar lamunan, karena ini merupakan bentuk keprihatinan penulis akan kenyataan yang saat ini ada. Sekaligus, ini wujud kepedulian penulis terhadap nasib madrasah kita.   Seimbangkah jumlah guru dengan pengawas yang ada? Jawabnya pasti belum.  Nah, ini tentu menjadi PR kita semua. Bagaimana dengan pengawas yang masih sangat kurang ini, mutu pembelajaran di madrasah dapat ditingkatkan.

Idealnya memang, setiap guru mata pelajaran akan mendapat pengawasan dan sekaligus pembinaan dari guru yang sesuai dengan bidang ahlinya.  Paling tidak masih satu rumpun mata pelajaran. Misalnya, Pengawas dengan spesialisasi Quran-Hadits dapat mengawasi mata pelajaran PAI lainnya.  Pengawas dengan kehalian Fisika dapat mengawasi  guru biologi/kimia. Pengawas dengan keahlian Bahasa Inggris, dapat mengawasi guru bahasa lainnya.

Apalagi, saat ini tuntutan menjadi guru profesional disambut dengan semangat gelora oleh semua guru. Bahkan, guru yang tadinya sudah malas meraih ilmu standar Strata satu pun saat ini menempuhnya dengan segala cara.  Guru yang tadinya sudah “loyo” pun, saat ini bergairah untuk  dapat memenuhi standar sebagai guru profesional. lalu, pertanyaannya, agar dapat menjadi guru profesional atau untuk “sekedar’ mendapat tunjangan profesional? Akibatnya, banyak guru yang menempuh pemenuhan portofolio dengan 1001 cara. Tidak dapat yang halal, cara haram pun dapat ditempuhnya. Yang penting lolos portofolio, dan mendapat sertifikat sebagai guru profesional.

Lain dengan guru yang penuh sadar akan segala kekurangannya. Mereka meraih gelar dengan semangat belajar dan berlatih. Dan, melalui pendidikan profesionalitas gurulah cara yang paling tepat. Hasilnya, guru bukan sekedar profesional bukan sekedar karbitan. Mereka melalui pendidikan, pelatihan, dan ujian.  Mutu di depan kelas? Dapat dibuktikan.

Nah, jika guru madrasah yang profesional tersebut melalui cara yang kedua, pengawas kurang pun, insya Allah akan bekerja secara profesiaonal pula. Ini bukan berarti tidak setuju dengan jalur portofolio. Namun, di lapangan telah terbuktikan. Guru profesional hasil PLPG memiliki “krlrbihan” dengan yang lolos portofoilio . Sekali lagi, meskipun ini tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi.

Kembali ke pengawas. Tugas pengawas berat pula. Tetapi dengan tunjangan profesional sebagai pengawas, sebenaarnya akan menggantikan kelelahannya juga. Bahasa miring yang sering kita dengar, bahwa pengawa datang ke madrasah hanya pada saat-saat ada kegiatan rutinitas saja, misalnya ujian,  harusnya mulai terkikis. Kelak, dengan peraturan baru kepengawasan, pengawas adalah sosok pegawai terhormat yang memiliki penghasilan lumayan. Pengawas yang akan datang adalah pengawas yang benar-benar profesional sesuai bidang keahliannya.

Insya Allah, dengan segala kemantapan menatap masa depan madrasah, cita-cita luhur menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan bermutu akan terjawabkan.

Informasi Pendidikan

tes pengawas madrasah, format seleksi calon pengawas madrasah, jumlah pengawas madrasah sangat kurang, materi test pengawas madrasah, pengawas madrasah, soal uji kompetensi seleksi calon pengawas madrasah/pai, yhs-fullyhosted_003

2 thoughts on “Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah

  1. portofolio beneran dengan portofolio jadi2an itu memang kan tadz ???? setuju juga yang lolos porpofolio pun masuk PLPG. agar lebih mantap portofolionya …..???

  2. portofolio beneran dengan portofolio jadi2an itu memang beda alias tidak sama kan tadz ???? setuju juga yang lolos porpofolio pun masuk PLPG. agar lebih mantap portofolionya …..??? temtunya juga Bpk Ibu Pengawas juga dong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>