Guru Madrasah

Advertisement

Samakah guru madrasah dengan guru pada sekolah umum? Jawabnya beragam. Dapat sama. Dapat pula berbeda. Perbedaan jawaban tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya. Secara umum  setiap guru memiliki kompetensi sama. Namun, ketika  ada yang mengatakan bahwa dirinya mengajar di madrasah, orang yang mendengar langsung memiliki prasangka guru tersebut memiliki kompetensi keberagamaan lebih.

Perlu ditindaklanjuti anggapan  tersebut. Benarkah guru madrasah rata-rata memiliki kompetensi keberagamaan lebih daripada guru di luar madrasah? Jawaban atas masalah tersebut adapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, aktifitas guru tersebut dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keberagamaan dalam hidup kesehariannya. Kedua, guru madrasah banyak terlibat dalam kegiatan keagamaan, baik di madrasah maupun di masyarakat. Ketiga, kegiatan keagamaan di madrasah lebih banyak dan lebih berkualitas. Keempat, tingkat keberagamaan siswa madrasah lebih dari pada siswa sekolah umum. Tentu masih ada aspek lain yang dapat mencirikan kompetensi keberagamaan guru madrasah.

Ada masalah yang sunggguh mengelitik  terkait dengan guru madrasah. Yang dikatakan tidak dapat adzan, tidak dapat ngaji (baca Quran), tidak a dapat ngisi pengajian, apa lagi khutbah. Jelas, pernyataan tersebut tidak untuk semua guru madrasah. Hanya saja, karena anggapan masyarakat bahwa madrasah adalah sekolah agama, maka sangat ironis bila ada guru madrasah yang tidak memenuhi harapan masyarakat  pada umumnya. Terkadang, cibiran tersebut masih dapat ditangkis dengan pernyataan, “Saya bukan guru agama.  Pelajaran agama sudah menjadi tanggung jawab guru agama. Sehingga saya tidak harus dapat ngaji, ngisi pengajian, apalagi khutbah”.

Kita tahu, jawaban tangkisan tersebut tidak tepat. Sebab, guru apa pun selama dia muslim wajib menimba dan memiliki kompetensi kebergamaan yang memadai. Kenyataan yang saat ini ada mungkin seperti itu.  Paling tidak untuk guru madrasah di lingkungan Kemetrian Agama Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.  Sistem penerimaan guru madrasah yang “kurang” selektif dalam kompetensi keberagamaan, menjadi salah satu sebab masalah tersebut.  Guru terangkat karena tes tertulis saja belum mampu memberikan jawaban apakah calaon pegawai tersebut memiki keberagamaan yang baik. Buktinya, ada beberapa guru yang sudah CPNS ternyata sangkaan miring di atas melekat semua pada diri CPNS tersebut.

Nasi telah menjadi bubur. Peribahasa tersebut harus tidak berlaku untuk guru madrasah.  Artinya, guru yang ternyata belum memiliki kompetensi  layaknya sebagai  guru di madrasah,  dibimbing terus menerus agar benar-benar mampu menjawab harapan masyarakat. Bahwa guru madrasah adalah guru yang siap pakai dalam amaliah keagamaan di keluarga, madrasah, dan masyarakat. Memang tidak  semudah membalikkan tangan agar guru mau aktif dalam kegiatan yang mengarah  kepada peningkatan SDM.

Kualitas guru madrasah juga dapat dilihat dari output madarsah tersebut. Adakah perbedaan keberagamaan lulusan madrasah dengan lulusan SMP? Ukuaran praktis yang digunakan oleh masyarakat adalah aktifitas sholatnya, pengajian, dan membaca Al-Quran.  Apabila ternyata lulusan madarasah memiliki nilai lebih dalam hal tersebut, tentu guru akan terlibat di dalam menyiapkannya. Tetapi, apabila ternyata lulusan madrasah tidak berbeda akan keberagamaannya dengan lulusan SMP, juga guru madrasah akan kena imbasnya.

Saudaraku, kita guru madrasah. Tanggung jawab kita lebih berat dibanding dengan guru di luar madrasah. Kita mempunyai tanggung jawab ganda. Ilmu pengetahuan secara umum sesuai dengan profesi kita dan ilmu  agama. Sekali lagi, mari kita tumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri kita. Siswa kita tidak akan hanya kita siapkan menjadi anak pinter, tetapi juga anak yang penuh amaliah keagamaan. Singkatnya, guru dan madrasah harus mampu menyiapkan kader umat untuk masa depan.

4 thoughts on “Guru Madrasah

  1. artikel sampeyan sangat bagus, inspiratif dan orisinil… jika sampeyan tdk berkeberatan saya ingin memajang tulisan sampeyan di blog saya karena saya juga guru madrasah yg sangat mencintai tulisan (kajian) tentang madrasah. Menurut saya tulisan sampeyan ini sangat pas dengan kenyataan yg banyak terjadi di madrasah-madrasah, terlebih madrasah negeri. Untuk itu lah saya mohon izin utk memajang tulisan sampeyan (tentu saja akan saya sebutkan sumber asli dan nama pengarangnya) agar teman-teman saya sesama guru madrasah bisa membaca tulisan bagus dari sampeyan. Terimakasih.. ditunggu konfirmasinya segera!

  2. guru siapa pun dia kalau sebagai muslim apa lagi guru madrasah (termasuk GPAI)sekolah non Madrasah mau tidak mau mengupayakan kognitif affektif dan psikomotor-nya melekat pada sang guru madrasah/GPAI yang akan membimbing, mendampingi dan sekligus sebagai teladan bagi peserta didik di sekolah juga jadi sorotan masyarakat lingkungannya, masak guru madrasak/Guru Agama masih ogah-ogahan jama’ah shalat fardlu di masjid bila tanpa udzur.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *