Murid Baru = Seragam Baru

Advertisement

Tidak ada kepastian hukum memang, bahwa murid maru harus membeli seragam baru.  Kenyataan yang ada memang dirasa berbeda, terbukti sebagian besar sekolah/madrasah menerapkan seragam baru bagi  murid baru. Kenyataan ini yang sering menimbulkan masalah, pro dan kontra. Meskipun sering muncul pernyataan dari para petinggi pendidikan, bahwa sekolah tidak harus menerapkan pakaian seragam bagi muridnya, namun kenyataannya hanya sedikit sekolah/madrasah yang menepati pernyataan tersebut.  Pakaian seragam dijadikan salah alasan menyulitkan pembiayaan pendidikan.

Lain dengan kenyataan di lapangan. Sekolah/madrasah terkadang dibuat bingung juga. Satu sisi akan menerapkan tidak wajib menggunakan pakaian seragam agar tidak memberarkan murid/orangtua, sisi lain kerapian dalam berpakain menjadi satu indikator ketertiban dan kerapian.  Juga, tidak sedikit orang tua yang menghendaki adanhya pakaian seragam bagi anaknya. Mereka bangga apabila anaknya menggunakan pakaian seragam sekolah. Yang lebih penting lagi, dengan pakaian seragam anak akan mudah dikenali.

Yang perlu mendapat perhatian sebenarnya bukan seragamnya. Tetapi pakaiannya: jenisnya, penggunaannya. Saya termasuk yang setuju murid tidak harus selamanya menggunakan pakaian seragam.  Bukan berarti murid dibebaskan asal menggunakan pakaian. Murid benar-benar diarahkan bagaimana akhlak berpakaian. Waktunya yang diseragamkan, kapan murid menggunakan pakaian yang serba seragam, dan kapan murid boleh menggunakan pakaian yang tidak berseragam.

Harus diakui. Satu diantara keberatannya menyeragaman pakaian bagi murid adalah ketidaktransparannya dalam pengadaan yang dikelola oleh sekolah/madrasah. Perbedaan selisih harga antara di toko dengan harga yang dikelola sekolah/madrasah mengakibatkan kecurigaan. Sekaligus memberatkan orang tua. Apalagi hampir dapat dipastikan, setiap tahun ajaran baru yang seragam baru tidak hanya murid. Guru dan karyawan pun ikut berseragam baru.  Timbul pertanyaan, “Seragam guru dan karyawan baru itu dari mana?”

Ada beberapa  modus  curang terkait pengadaan seragam sekolah/madrasah. Satu dainatara modus tersebut adalah sekolah/madrasah  mencari rekanan yang dapat memberikan pengembalian banyak untuk sekolah/madrasah (-baca: pengelola (panitia).  Menjelang tahun  penerimaan peserta didik baru selain panitia mencari rekanan  pembanding, terkadang jauh hari rekanan akan datang ke sekolah/madrasah. Lebih lagi, rekanan mengumpulkan para kepala sekolah/madrasah dengan berbagai iming-iming. Tidak cukup sampai di situ, rekanan akan datang silaturahmi ke rumah para kepala sekolah/madrasah. Satu tujuannya utamanya mengegolkan penawaran dan kerjasamanya.

Kepala sekolah  yang tidak tahan uji terseret untuk mengiyakan. Apalagi tawaran berbagai bonus khusus untuk kepala sangat menggiurkan.  Dari potongan 25% khusus untuk kepala dan 15% untuk panitia. Belum lagi jaminan kain seragam bagi seluruh guru/karyawan. Masih bahan khusus untuk panitia, dan sangat khusus bagi kepala dan istri/suami.  Bahasa bonus inilah kadang yang menjadi akar masalah.

Ternyata bukan masalah seragam, tetapi masalah harga dan keterbukaan kepada pihak terkait penyeragaman pakaian sekolah itu diterima atau memberatkan.  Ketika orang tua murid kita tanya, seragam atau tidak? Jawabnya sebagian besar seragam.  Untuk meminimalkan masalah, sekolah/madrasah dapat secara terbuka menyampaikan beberpa informasu terkait penyeragaman. Informasi yang dapat disampaikan kepada pihak terkait: jenis, harga, dan di mana.

Insya Allah, jika dari awal kita niatkan penyeragaman pakaian murid itu benar- benar demi ketertiban dan kerapian, serta adanya transparansi dalam pengadaan, fasilitasi pengadaan seragam sekolah/madrash tidak akan menjadi masalah.

Mari kita coba. Insya Allah bisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *