UAMBN MTs, DUH…!

Advertisement

“Pak, ini ujian berstandar nasional?”

suara seorang guru PAI sambil memegang lembaran soal materi ujian saat itu yang ditujukan kepada saya.

“Coba, soal tidak jelas perintahnya. Ini siswa diminta mengerjakan bagaimana?. Belum lagi lembar jawabnya. Benar-benar memalukan,”

gerutu guru tersebut.

Setelah saya baca, ternyata sangatlah pantas bila guru tersebut menggerutu. Soal tidak disertai petunjuk atau perintah yang jelas. Petunjuk umum pada lembar pertama siswa agar mengerjakan di lembar LJK, tapi? “Pak, mana LJK-nya? Masa seperti ini? Lalu, cara mengerjakannya bagaimana, Pak?” tanya seorang siswa dengan nada keheranan. Akhirnya disepakati, siswa cukup menyilang pilihan pada lembar jawab. Siswa tidak perlu mengerjakan seperti pelaksanaan Ujian Nasional yang lalu.

Jelas, kenyataan tersebut sangat bertolak belakang dengan ujian, latihan ujian, UTS, UAS, atau pun ulangan harian. Untuk ukuran siswa madrasah di Gunungkidul selama ini sudah dibiasakan dengan tersedianya soal dan perangkat ujian yang cukup memadai. Paling tidak, soal disusun dengan bahasa yang baku; dihindarkan dari soal yang bias atau ambigu. Indikator yang akan diukur jelas dapat dipahami. Apabila soal harus menghadirkan ayat atau hadits, pernyataan atau pertanyaan yang terkait dengaannya akan diletakkan di bawah.

Atau, mungkin tugas editor yang kurang maksimal? Bisa jadi. Inilah pentingnya editor. Tentunya UAMBN tahun ini sudah dipersiapkan tidak main-main. Tahapan penyusunan soal sehingga  siap saji pun pasti sudah dilalui. Lalu, mengapa masih terjadi “kekuarangan”, bahkan rada memalukan untuk disajikan sebagai  perangkat ujian berstandar nasional? Kita, para guru madrasah berhusnudzan. Untuk penulis butir soal diambilkan dari guru madrasah yang sudah memiliki kualitas dan pengalaman.  Editor jelas tidak diambil dari dan karena jabatan.  Sebab, kita tahu. Selama ini di lingkungan kita jika ada kegiatan yang harus ada yuri, editor, atau apa pun terkadang cukup hanya diambilkan berdasar jabatan, bukan  keahlian. Hasilnya…?

Okelah, ini kan pengalaman pertama. Tentu kita evaluasi. Adanya kekurangan tentu tidak akan terulang untuk masa mandatang.

Pikiran pun melambung. Bagimana bila soal ini dibaca orang lain? Orang dinas lain. Jatuhlah kita. Anggapan bahwa guru madrasah “kurang bermutu” terjawab sudah. Masa guru terpercaya menyusun butir soal untuk standar nasional, kok hasilnya seprti itu.

Akhirnya, kita tidak boleh patah arang. Apalagi patah semangat untuk berbuat yang lebih baik. Kita tunjukkan bahwa madrasah dan para guranya juga  dapat hebat, dapat berkualitas, termasuk menyelenggarakan ujian berstandar nasional. Dan sungguh berstandar nasional.

Tapi, bagaimana carany?

One thought on “UAMBN MTs, DUH…!

  1. “Go rocking pak Guru.
    Usul, mbok sering-sering nulis di ruprik “pendapat guru”-nya KR itu, biar ide-idenya banyak dibaca orang. Setelah dimuat di KR, atau media massa lain, baru dipublish di blog sendiri sebagai “arsip” n bisa diakses oleh mereka yang belum sempat baca.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *