UN 2010 SLTA YOGYA: LUAR BIASA

Advertisement

Catatan khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakrta (DIY) dari Pak Nuh, “Tahun lalu cukup bagus sekitar 93 persen (tidak mengulang), tetapi sekarang yang mengulang 23,70 persen dan 77 persen tidak mengulang. Ini daerah Jawa yang paling besar yang mengulang dari sisi persentase”.

Luar biasa.

Ungkapan tersebut bermakna bias. Tergantung dari sudut pandang mana kita akan memaknai terkait dengan hasil UN SLTA DIY tahun ini. Selama ini Yogya selalu menajdi ikon pendidikan di Indonesia. Kota pelajar, ya Yogya. Bahkan tidak sedikit, pelajar yang –katanya- berprestasi di daerah (baca luar Jawa), bila masuk sekolah Yogya harus mengalami dan melalui ini dan itu dulu. Pengalaman membuktikan, beberapa siswa dari luar terpaksa harus dipindah ke sekolah pinggiran Yogya karena dinilai sulit mengikuti lajunya pembelaran dalam satu kelas/sekolah anak-anak  Kota Yogya.  Tentu ini tidak berlaku sebagai generalisasi.

Belum hilang dari ingatan saya. Ini terjadi dalam perjalanan saya dari Kotabumi, Lampung Utara ke  Tanjung Karang. Dalam kendaraan umum yang saya naiki, ada percakapan dua orang  Bapak  tentang anaknya. Satu Bapak  asal Palembang begitu semangat dan bangganya menceritakan bahwa anak-anaknya dapat sekolah/kuliah di Yogya. Agar anak-anaknya dapat mengenyam dan menimba ilmu di Yogya, semua anaknya selulus SMP harus sudah dipindah di Yogya. Tidak tanggung-tanggung,  anak-anaknya disewakan rumah sehingga dalam satu keluarga dapat menempat dalam satu rumah.

Tentu masih banyak cerita nyata serupa di atas. Ini sekedar menguatkan anggapan atau kenyataan bahwa Yogya adalah kota pilihan, bahkan kota tujuan dalam hal pendidikan. Namun, sungguh ironis. Ternyata saat ini sebutan sebagai kota pelajar,  gudangnya sekolah favorit, dan sebutan baik lain terkait pendidikan harus tersentak dan terhentak. Tingkat kelulusan UN SLTA 2010 Yogya terjelek  se-Jawa: 23.70%.  Anka yang sangat fantastis.

Itu makna luar biasa dari sisi negatifnya.

Mari kita menengok ke belakang. UN tahu  lalu, 2009. Yogya dinyatakan sebagai penyelenggara UN terbaik di Indonesia. Baik pelaksanaannya, baik kejujuraanya, baik hasilnya. Apabila kita memperhatikan  media masa yang terkait  pelaksanaan UN, Yogya tidak terberita tentang kekurangannya dalam melaksanakan UN tahun ini. Soal bocor, beredarnya kunci jawab, dan hal-hal lain yang terkait dengan ketidaksempurnaan pelaksanaan UN  tidak terberita seperti daerah lain.  Lalu kira-kira apa yang menyebabkan tingkat kelulusan rendah?

Mari berhusnudzan. Bahwa pelaksanaan UN tahun ini jauh lebih baik dari pada tahun lalu. Peserta ujian pun bekerja secara profesional: jujur, kerja sendiri, tidak  contek sana-contek sini. Pengawas dan pelaksanan UN pun bekerja secara profesional, menghindarkan hal-hal yang memang bertentangan dengan  yang ada. Dan hasilnya? Luar Biasa: lulus 72,30%.

Masyarakat kita pun tak diam. “Lho, kalau Yogya saja yang tidak lulus banyak, bagaimana dengan kota-kota lain. Apa lagi kota di luar Jawa? Apa memang tingkat kesulitan soalnya berbeda?”, selorohnya. Pasti masih banyak pertanyaan liar terkait dengan hasil UN SLTA Yogya tahun ini.

Lanjutnya,”O, jangan-jangan benar berita di TV itu. Mosok, ada suatu sekolah ketika bel tanda masuk dibunyikan, peserta UN belum ada. Usut-usut ternyata peserta UN bergerombol merembug bocoran kunci jawab. Atau seperti cerita sahabtku itu. Pengawas diberkali dulu, dipesan dulu, disamakan persepsinya dulu: yang intinya agar membiarkan peserta UN melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal UN. Atau, kalu perlu pengawas dipersilakan membantu kesuksesan UN peserta. Yang penting tidak boleh gaduh atau beriksik”.

Wah, ini bahaya, kalau obrolan masyarakat Yogya ini diikuti terus. Nanti  menjadi su’udzan. Tapi, ini harus disyukuri. Paling tidak hasil UN kali ini benar-benar dapat digunakan sebagai koreksi diri. Pepatah Jawa becik ketitik, ala ketara harus kita yakini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *