Kebergamaan Siswa Kita

Advertisement

Madrasah. Adalah sebuah kata yang terkandung makna di dalamnya  pembelajaran keislaman. Siswa madrasah selalu dianggap memiliki nilai lebih dalam hal agama. Tentu saja nilai keagamaan tersebut (seharusnya) juga tercermin dalam perilaku dalam kehidupan para siswa tersebut.  Karena itu, dalam kesempatan lomba keagamaan antarpelajar, siswa madrasah tidak masuk dalam kriteria peserta. Siswa madrasah  pasti memiliki tingkat keberagamaan yang lebih dari siswa sekolah umum.  Benarkah pendapat tersebut?

Benar, kurikulum pelajarana agama di madrasah 8 jam lebih banyak dari pada sekolah umum. Pelajaran PAI, Quran-Hadits, Akidah-Akhlak, Fikih, SKI, dan bahasa Arab adalah pelajaran agama semua tingkat di madrasah. Sedangkan pelajaran agama di sekolah umum hanya 2 jam pelajaran dalam satu minggu. Perbedaan jumlah jam tersebut seharusnya juga berakibat hasil yang berbeda juga. Namun kenyataannya apakah demikian?

Sekedar potret keberagamaan siswa di suatu tempat di Gunungkidul.

Ada MTsN yang berdekatan dengan SMPN. Keduanya memiliki siswa yang hampir sama banyaknya. Guru pun demikian.  Sarana pendidikan  tidak jauh berbeda. Intinya kedua lembaga pendidikan tersebut hanya berbeda nama dan kelembagaannya. Ketika kita melihat keberagamaannya, ternyata berbeda. Lebih religius mana? Madrasah atau sekolah?

9 thoughts on “Kebergamaan Siswa Kita

  1. Tergantung INPUT dan yang memroses OUTPUT mbah.. ketika INPUT udah OK dan pemrosesan juga OK maka tidak menutup kemungkinan siswa MADRASAH akan mempunyai NILAI TAMBAH….

    1. banyak wacana yang berkembang di sekeliling kita mengenai ” jika input bagus, kemudian memprosesnya juga bagus, maka akan jadi output yg bagus ”

      saya pikir ini adalah opini yang sudah berkembang 20th yg lalu….
      lalu sekitar 5 th yg lalu oponi tidak hanya berhenti dikalimat tersebut. tetapi dyambahkan dengan, ” Bagaiamana kita bisa mengelola output menjadi income atau yg sering kita denger dg istilah outputcome ” ini yg serngkali terlupakan oleh lembaga pendidikan kita.

      sebab fokusnya tetap pada wacana 20 th yg lalu….
      input > proses > output !!! jarang berfikir bagaimana output ini bisa memiliki imbas yg luar biasa terhadap lembaga pendidikan yg memprosesnya.

      seiring dengan perkembangan jaman, sekarang muncul lagi sebuah opini bagaimana kita bisa mengolah inputcome >>> prosescome hingga sampai pada outputcome !!!!

      jika kita tdk bisa kuasai teknologi jangan harap….wacana terakhir bisa kita dapatkan.

      salam kenal dan salam sukses u kita semua.
      wahono
      http://wahonobae.blogspot.com

  2. Saya berpikir bahwa setiap kita memiliki tanggungjawab dalam pengajaran pendidikan keagamaan bagi anak-anak kita. Sebagai guru atau pendidik, saya sangat setuju dengan “kegelisahan” anda, dan semoga kita tidak larut dalam pertanyaan “mengapa dan bagaimana” namun dapat terus maju untuk mendidik anak bangsa ini, Salam pendidikan

  3. Itu kenyataan, namun kita tidak boleh berhenti pada pekrihatinan. Guru madrasah harus MALU melihat kenyataan tersebut. lalu berusaha membuat gerakan keberagamaan yang sesua dengan nama MADRaSAH.

  4. Saya setuju dengan artikel ini, walaupun secara harfiah kata sekolah dan madrasah mempunyai arti yang sama namun bobot kurikulum agama lebih banyak muatannya di madrasah. Dengan muatan pendidikan agama yang lebih banyak diharapkan siswa madrasah lebih unggul dari sisi keagamaan mereka yang teraplikasikan pada aktivitas keseharian. Namun Keadaan sekarang berubah, pendidikan agama mudah didapat dengan cara nonformal ataupun informal yang bertujuan sama membentuk pribadi-pribadi bertanggungjawab dan religius. Harapan saya adalah supaya madrasah sebagai penggerak dari terciptanya insan-insan religius yang menjadi teladan bagi semua, walaupun demikian kita juga tidak menafikan fungsi lingkungan masyarakat sebagai mitra kontrol bagi madrasah/sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *