Musti Gurukah yang Disalahkan?

Advertisement

“Para siswa, apa layak minta lulus apabila kamu semua saja males belajar?”. “Layak, Bu…!”, jawab siswa kelas 9 serentak. “Sekarang untuk para siswa kelas 7 dan 8, kamu ternyata juga males belajar. Apakah layak dan pantas kamu minta naik kelas?”. Serentak siswa kelas 9 yang menjawab, “Tidak, Bu…”.

Dialaog terbuka tersebut terjadi saat pembina upacara memberikan pembinaan pada Senin pagi kemarin. Bu guru tetap bersemangat dengan memberikan nasehat dan semangat agar seluruh siswa giat belajar. Sangat terasa, guru tersebut memahami kenyataan yang ada pada diri siswanya.

Sangkaan jarang atau bahkan tidak mau belajar merupakan jawaban pasti. Hanya dengan hitungan jari saja dari 456 siswa yang datang di sekolah setiap hari merasa bahwa dirinya punya kewajiban belajar. Bila guru menanyakan apakah malamnya belajar, jawaban yang keluar dari mulut yang masih lumayan jujur adalah tidak. Atau diam. Atau saling melihat sesama siswa.

Ini terjadi di sekolah agak pinggiran belahan tenggara Yogyakarta.

Ini salah siapa?
Yg sering jadi sasaran tudingan sekolah. Lebih khusus guru. Tentu saja dalam hal ini guru tidak mau disalahkan secara sepihak. Mereka merasa bahwa sudah melakukan hal yang terbaik: mempersipakan pembelajaran dengan selengkap-lengkapnya. Melaksanakan pembelajaran dengan setertib-tertibnya. Evaluasi pun dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Namun, kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan guru, ketika hasil yang dicapai siswa jauh dari harapan. Jangankan melebihi KKM, mendekati pun jarang.

Nah, bila ujian menjelang tiba, gurulah yang sibuk mencari cara bagaimana siswanya dapat lulus. Dari yang masuk akal, sampai yang tidak masuk akal. Yang masuk akal misalnya, sekolah/ guru memberikan latihan-latihan soal yang lumayan banyak dan melelahkan. Bila latihan-latihan ujian pun hasilnya belum memungkinkan siswa nanti lulus, diperbanyak doa. Dari doa sendiri, doa bersama. Tidak cukup dengan hal tersebut, mujahadah kubro pun dilaksanakan.

Masih ragu, kelihatannya siswa jauh dari harapan. Mulailah cara-cara muskil. Pensil yang akan digunakan mengerjakan soal dikumpulkan. Lalu pensil tersebut dibawa ke orang pinter. Setelah di jopa japu pensil dibagikan dengan harapan siswa lancar mengerjakan soal, dan hasilnya joss. Tidak cukup itu. Ada juga, pensil di bawa ke orang pinter. Oleh orang pinter tersebut pensil dicelup ke air di gelas. Nah, setelah di jopa japu, selain pensil dibagikan, air pun agar diminumkan. Luar biasa.

E, ternyata hasilnya juga belum bagus. Sedangkan masyarakat dan publik ndak mau tahu, bila kelulusan sekolah tidak baik, maka sekolah tersebut tidak baik. Masyarakat tidak mau tahu. Berapa persenkah peran sekolah dalam mendidik para siswa. Bukankah masih ada yang harus terlibat dan bertanggung jawab: keluarga dan masyarakat,
Kenyataannya, memang siswa dininabobokkan oleh keasyikan permainan yang lebih kepada menjerumuskan ketimbang membawanya ke arah lebih positif. Makhluk itu bernama HP dan internet.

Tidak bermaksud menganggap remeh dua alat komunikasi tersebut, hanya saja segala kemanfaatan yg ada pada kedua alat tersebut dapat menjadi sumber petaka bg penggunanya. Bagi siswa di daerah pinggiran, media tersebut belum menjadi pemicu kemajuan pendidikan bg penggunanya. Yang memanfaatkan sebagai media dan atau sumber belajar sangat kecil prosentasenya. Suatu saat penulis mengajukan beberapa pertanyaan terkait pemanfaatan HP dan internet kepada beberapa siswa. Jawabannya beragam. Namun 90% menjawab memiliki atau menggunakan dua media tersebut baru sebatas sebagai hiburan. Khusus penggunaan internet lebih kepada hal-hal yang mengarah negatif mengasyikkan.

Itulah. Akhirnya, banyak siswa yang terlena akan belajarnya. Hasil ujian pun, jauh dari yang diharapkan. Ketika prosentase ketidaklulusan tinggi, masyarakat, bahkan termasuk instansi terkait akan menuding bahwa sekolah, dalam hal ini huru telah gagal.

Lalu?

8 thoughts on “Musti Gurukah yang Disalahkan?

  1. Salam kenal
    Kehadiran ICT memang memilukan …sumber petaka…, conntoh: dari sumber berita-berita di TV sering juga kita saksikan hilangnya seorang siswi karena sering berkomunikasi melalui FB, dan mungkin masih banyak lagi. Sungguh prihatin pemanfaatan ICT dengan tidak tepat guna dan tidak tepat sasaran. Jika ICT hanya sebagai hiburan, coba silakan kunjungi http://pcahyono.blogspot.com/ dan http://pcahyono.blogspot.com/p/berita.html
    Salam kreatif…

  2. Memang jadi guru itu tidak gampang, masyarakat tidak mau tau tentangapa yang kita rasakan,masyarakat hanya peduli pada apa yang mereka inginkann yaitu kelulusan anaknya . . . tida memikirkan kemampuan yang dimiliki si anak,kalo gagal guru yang jadi sasaran

  3. masalah pendidikan anak tidak bijaksana diserahkan bulat-bulat kepada sekolah, orang tua pun hrs memiliki andil dalam menanamkan tanggung jawab di rumah sebagai dasar yang terbawa ke lingkungan yang lebih luas, sekolah dan masyarakat. Ayo, orang tua belum ada kata terlambat.

  4. inilah kesulitan kita di jaman HAM (katanya). menurut saya pribadi, orang Indonesia asli masih perlu lebih keras dalam menanamkan disiplin, pendekatan-pendekan secara lembut hanya beberapa persen saja yang bisa (rata-rata ortunya ber SDM bagus). yang lebih penting adalah penanaman MORAL & AGAMA.

  5. Kasian juga melihat para guru, posisinya sangat serba salah saat harus memutuskan anak meluluskan atau tidak seorang siswa? Beri bocoran jawaban atau tidak saat UN? Antara tanggung jawab, dedikasi dan nama baik..^^

  6. bila bicara tentang salah menyalahkan maka semua punya andil salah, mulai siswa, sekolah, televisi, content media & internet, pemerintah sebagai regulator dan masyarakat sebagai pengawas

    tapi bila berbicara tentang solusi yang bisa dilakukan, tentunya kembali pada siapa yang berkehendak untuk memperbaiki semuanya. menjadi orang yang benar tentu berisiko untuk tidak populer, melakukan hal benar dengan semaksimal mungkin, apapun hasilnya, tentunya akan membuahkan kebahagiaan yang menentramkan

    1. Alhamdulillah. Yang saat ini langka mencari orang yang siap kerja keras, kerja cerdas namun siap untuk tidak populer. Orang seperti ini sering disebut sebagai orang setengah gila.. Untuk sebuah tujuan mulia, kadang dia rela tidak sama dengan umumnya, dianggap nyleneh, dan dianggap gila, itu.

  7. Teknologi ibarat dua mata pisau, kalau digunakan untuk kebaikan ya kebaikanlah yang didapat.
    Untuk itulah guru (tentu bekerja sama dengan orangtua) memberi pengertian bahwa teknologi sebenarnya bisa digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *