Pencitraan Madrasah

Advertisement

Pencitraan Madrasah

Pemerintah kita sesungguhnya tidak bermaksud membedakan antara sekolah dengan madrasah. Seluruh produk hukum terkait pendidikan telah menyejajarkan antara sekolah dengan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA. Sehingga tidak boleh lagi ada perasaan bahwa madrasah lebih rendah dari sekolah. Atau sebaliknya. Kalau toh ada perbedaan, sebenarnya hanya terletak pada penciriannya, bahwa madrasah merupakan sekolah bercirikhas Islam. Hal tersebut dibedakan dengan porsi pelajaran Agama Islam, di madrasah 10 jam per minggu termasuk di dalamnya Bahasa Arab, sedangkan di sekolah 2 jam per minggu. Pengelolanya: sekolah pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sedangkan madrasah dikelola oleh Kementerian Agama.
Namun, kenyataannya masih ada sebagian pegawai (baca: guru) Kementerian Agama sampai saat ini yang merasa adanya perbedaan. Diantara anggapan tersebut antara lain bahwa madrasah belum sejajar dengan sekolah, baik itu kualitas maupun kuantitas lulusannya; masih dirasakan bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan kelas dua; madrasah adalah sekolah swasta. Dan masih banyak anggapan minor atau miring tentang madrasah. Akumulasi dari semua anggapan miring tersebut adalah kurang PD-nya guru Kemenag dalam kancah pendidikan ketika bersanding dengan guru Dinas Pendidikan. Hal ini tidak dapat digeneralisasi, namun harus dicari solusinya sehingga para guru madrasah pada saatnya berani menyatakan bahwa dirinya adalah ada.
Untuk menjawab permasalahan di atas dapat dikritisi dari Standar Minimal Pendidikan. Apabila SPM telah terpenuhi oleh madrasah, maka tidak ada alasan para guru madrasah merasa minder atau tidak PD bersejajar dengan guru dinas pendidikan. Artinya madrasah sama dengan sekolah. Untuk itu, madrasah harus mencitrakan diri sebagai lembaga pendidikan yang patut diperhitungkan. Kesan miring masyarakat (-bahkan dari para guru madrasah sendiri) terhadap madrasah harus satu per satu dihilangkan. Meski pelan, harus pasti.
Membuat pencitraan itu bukan pekerjaan gampang. Tentu harus dimulai dengan analisa yang matang sehingga terumuskan apa dan bagaimana langkah strategisnya. Setiap objek masalah harus disertai cara pencitraannya. Dimulai dari yang mudah dilakukan; dari yang kelihatan; dan dari yang cepat dirsasakan hasilnya.
Dapat diambil contoh:
Pergedungan harus ditata rapi, bersih, cat serasi sehingga mengesankan keindahan. Pakaian/seragam pegawai harus rapi, matching, warna menarik, sepatu mengkilap sehingga mengesankan kecantikan dan ketampanan pemakainya. Begitu juga seragam siswa. Civitas madrasah selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat, misalnya bakti sosial/kerja bakti, karnafal, festival atau olimpiade-olimpiade yang melibatkan sekolah umum. Madrasah mengadakan kegiatan yang melibatkan siswa tingkat bawahnya, misalnya MTs mengadakan kegiatan yang pesertanya siswa SD/MI. Guru aktif dalam berbagai kegiatan peningkatan mutu SDM/profesionalisme. Tentu masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan.
Untuk mendapatkan hasil pencitraan yang bagus tentu membutuhkan waktu yang lama dan aktifitas yang tidak mandek. Artinya, usaha pencitraan itu harus dilakukan secara terus-menerus dan selalu diadakan evaluasi. Sampai akhirnya, seluruh civitas madrasah merasa dirinya benar-benar sejajar, syukur unggul dari sekolah umum. Pekerjaan yang tidak mudah setelah usaha pencitraan itu brehasil adalah mempertahankan citra baik tersebut ke masa depan.
Sebenarnya pegawai kemenag, khususnya pengelola madrasah saat ini sudah saatnya merasa berada pada posisi unggul. Fasilitas KBM di madrasah tidak jauh berbeda dengan sekolah. Terutama madrasah negeri fisik pergedungan benar-benar telah bersaing dan bahkan lebih baik dari sekolah sekitarnya. Media pembelajaran pun demikian. SDM atau para guru pun telah memenuhi standar profesionalitas. Apalagi PNS-nya sering dicemburui karena adanya uang lauk-pauk.
Ketika masalah dan solusi teknisnya telah dirumuskan, untuk dapat mengangkat harkat dan martabat madrasah adalah kecerdasan para pemangkunya untuk bersyukur. Bersyukur dalam arti luas dan cerdas. Bersyukur dalam arti aktif, kreatif, inovatif, dan penuh dedikasi. Semua kesan miring tentang madrasah: guru/SDM, KBM, sarana-prasarana harus benar-benar terjawabkan. Pada saatnya seluruh civitas madrasah berani berdiri tegak, berjalan tegap, dan memandang lurus ke depan sebagai bukti bahwa keberadaannya telah benar-bebar diperhitungkan oleh masyarakat luas.
Kapan hal tersebut akan terwujud? Saat ini, dari yang paling kecil, dan dimulai dari setiap diri pemangku madrasah.

One thought on “Pencitraan Madrasah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *