Syawal yang belum Bermakna Peningkatan.

Sekan tidak ada habisnya menuliskan keberagamaan para siswa di pinggiran Gunungkidul. Beberapa tulisan saya telah mencoba menggambarkan kenyataan yang ada di tengah masyarakat (sekolah/madrasah maupun masyarakat nyata). Juga telah saya paparkan, meskipun dengan bahasa ringan sejarah dakwah di Semanu khususnya. Gambaran masa lalu dan masa sekarang pun sempat saya sajikan meski masih sangat sederhana dengan objel penelitian peserta didik dan wali/orang tuaya.

Kepekaan dan kesemangatan peserta didik untuk menjalankan syariat agama benar-benar masih sangat memprihatinkan. Paling tidak ini yang terjadi di madrasah, tempat saya bertugas. Hal tersebut terindikasi dari perilaku yang sangat kelihatan. Misalnya, peserta didik tidak segera mengambil peran segara dalam melaksanakan shalat pada saatnya tiba. Dianggap hal yang biasa tidak berpuasa karena alasan-alasan yang sesungguhnya tidak “nyar’i”. Bagi peserta didik perempuan masih teranggap bahwa memakai kerudung atau busana muslimah itu cukup ketika bengikuti kegiatan di madrasah. Baik itu KBM harian maupun ekstrakurikuler. Dan masih didapati perilaku yang kurang atau tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam. Continue reading “Syawal yang belum Bermakna Peningkatan.”