Syawal yang belum Bermakna Peningkatan.

Advertisement

Sekan tidak ada habisnya menuliskan keberagamaan para siswa di pinggiran Gunungkidul. Beberapa tulisan saya telah mencoba menggambarkan kenyataan yang ada di tengah masyarakat (sekolah/madrasah maupun masyarakat nyata). Juga telah saya paparkan, meskipun dengan bahasa ringan sejarah dakwah di Semanu khususnya. Gambaran masa lalu dan masa sekarang pun sempat saya sajikan meski masih sangat sederhana dengan objel penelitian peserta didik dan wali/orang tuaya.

Kepekaan dan kesemangatan peserta didik untuk menjalankan syariat agama benar-benar masih sangat memprihatinkan. Paling tidak ini yang terjadi di madrasah, tempat saya bertugas. Hal tersebut terindikasi dari perilaku yang sangat kelihatan. Misalnya, peserta didik tidak segera mengambil peran segara dalam melaksanakan shalat pada saatnya tiba. Dianggap hal yang biasa tidak berpuasa karena alasan-alasan yang sesungguhnya tidak “nyar’i”. Bagi peserta didik perempuan masih teranggap bahwa memakai kerudung atau busana muslimah itu cukup ketika bengikuti kegiatan di madrasah. Baik itu KBM harian maupun ekstrakurikuler. Dan masih didapati perilaku yang kurang atau tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam.

Seperti biasa, saya menanyakan amaliah harian peserta didik. Kebetulan saat itu hari pertama masuk dari libur Idul Fitri 1433. Setelah suasana hati anak tercipta dan dimungkinkan kejujuran akan terwujud, mulailah tanya jawab.
“Untuk anak-anakku yang putra. Coba tunjuk jari yang selama Ramadhan kemarin tidak punya utang puasa!” Alhamdulillah, maasih ada sekitar 70-an yang tunjuk jari.
“Nah, sekarang yang putri. Coba tunjuk jari yang tidak punya utang puasa selain karena haid!” Alhamdulillah, tidak jauh berbeda dengan yang putra. ,

Melihat kenyataan tersebut, lalu saya minta guru PAI untuk mendata peribadatan puasa seluruh anak. Target saya ada data konkrit penyebab peserta didik tidak puasa. Hasilnya, sungguh mencengangkan. Beberapa alasan meninggalkan puasa:
1. Males
2. Tidak kuat
3. Tidak sahur
4. Keluarga tidak ada yang puasa
5. Lapar dan haus.
6. dan masih banyak alasan.

“Tunjuk jari yang saat ini sudah selesai puasa sunah Syawal!”. Nihil.
“Tunjuk jari yang sedang atau masih puasa Syawal!”
Tetap nihil.
“Siapa yang ada niat untuk meksanakan puasa Syawal?” Alhamdulillah, ada dua anak yang tunjuk jari dari 474 siswa itu. Demikian.
Upara Senin berikutnya saya diminta mengganti petugas pembina upacara yang tidak hadir. Kesempatan tersebut tetap sayta gunakan untuk mengingatkan peserta didik akan pentingnya ibadah. Pikir saya, seminggu yang lalu sudah diingatkan; bakda bulan Ramadhan; telah terjadi peningkatan aktifitas dan kaulitas
.ibdah peserta diik.
“Nak, Allah itu sangat mencintai orangt-orang yang jujur. Dalam satu hadits disebutkan bahwa orang jujur itu dekat dengan surga dan jauh dari neraka.
Coba tunjuk atau angkat tangan yang tadi pagi subuh!”
Astaghfirulah, dari seluruh peserta didik yang angkat tangan sebagai tanda bahwa dia melaksakan subuh tidak lebih 50 anak.
“Tunjuk jari yang tadi pagi melihat orangt tua atau walimu meksanakan shalat subuh!”. Satu,dua, tiga,…… tidak lebih 70 anak yang tunjuk jari.

Ini kenyataan. Ini tantangan. Mungkinkah ini hanya terjadi di madrasah tempat tugas saya. Atau, hal tersebut juga terjadi di madrasah lain?

Kalau dilihat dari sisi tenaga pendidik (guru), menurut saya sudah bagus. KBM tertib. Kalau dilihat dari sisi keluarga, jawabnya nyata sebagaimana di atas tadi. Masyarakat? Ternyata permisif, atau malah cuek.

Sungguh prihatin. Tetapi, kami, para guru, madrasah jelas tidak bisa menjawab tantangan tersebut sendirin. Tri pusat pendidikan harus bergerak serentak. Guru mati-matian pun tanpa ada tindak lanjut di keluarga dan di masyarakat, pendidikan tidak akan memberikan arti apa-apa.
Inilah tanggung jawab kita bersama: sekolah., keluarga, dan masyrakat.

One thought on “Syawal yang belum Bermakna Peningkatan.

  1. Betul mas Faizuz, menjadi tanggungjawab kita bersama untuk “mendidik” anak, namun kebanyakan para ortu beranggapan kalau sudah sekolah mereka tak perlu lagi memberi pelajaran tentang “kehidupan”.
    @ tak tunggu postingan berikutnya… ikut numpang belajar!!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *