Benarkah Engkau Sekolah, Nak?

Advertisement

“Anak-anakku yang selalu saya sayangi, Bapak bangga melihat kamu berbaris rapi Senin ini.  Pakainmu juga rapi. Tentu membuat Bapak semakin senang mendoakanmu agar kalian kelak dapat meraih cita-citamu”, dekimian pembuka pembina upacara Senin, minggu akhir November 2012 ini.

“Anak-anakku, seminggu lagi UAS semester ganjil akan dilaksanakan. Bapak doakan agar kamu sihat, sehingga dapat banyak beribadah dan lancar belajar”. Seacara sepontan para siswa menjawab, “Aamiin…”.

“Nak, agar Bapak, dan seluruh gurumu dikabulkan doanya oleh Allah, tentunya kamu harus dekat kepada Allah dan banyak berusaha. Dekat kepada Allah itu caranya dengan melaksanakan shalat lima waktu secara tertib dan teratur. Jangan lupa memperbanyak berdoa, memohon kepada Allah. Tadi malam Bapak, insya Allah juga para guru bangun malam, shalat malam, dan tidak lupa mendoakan akan kesuksesanmu semua”. Lagi-lagi anak-anak menjawab, “Aamiin”.

“Coba angkat tangan, siapa yang pengin sukses?” Tangan semua terangkat sebagai bukti bahwa seluruh siswa kepingin sukses. “Sekali lagi, Nak. Kesuksesanmu itu sangat banyak ditentukan oleh doa dan usahamu sendiri. Mestinya juga doa dari orang tua dan para gurumu. Bapak akan bertanya. Yang tadi malam shalat isya angkat yangan! ALhamddulillah, masih ada yang shalat isya meskipun hanya beberapa siswa saja.

“Nah, Bapak akan memberi hadiah kalau ada yang memenuhi syarat. Siapa yang tadi malam shalat tahajjud atau shalat lail? Ayo, siapa? Tidak Ada? Semoga doa Bapak dan para guru untuk kesuksesanmu pada shalat tahajjud tadi malam dikabulkan Allah. Masih ada hadiah, siapa yang tadi pagi shalat subuh berjamaah di masjid?

Sesungguhnya hati pembina itu sangat miris melihat kenyataan anak didiknya. Bahkan ketika ditanya tentang belajar, selalu jawabannya belum membuat para guru bangga. Keseharian para siswa tidak menunjukkan kesungguhan dalam menimba ilmu. Pandangan kosong, perilaku yang menunjukkan dan mengarah sebagai pembelajar sangat tiak kelihatan.

Kami sering diskusi dengan para guru dan komite bagaimana membangkitkan kesadaran kebersekolahan para siswa. Namun, sampai saat ini belum terwujud hasilnya. Kelihatannya masih ada kendala, sikap orang tua/wali terhadap pentingnya pendidikan itu sendiri.

Kisah menarik untuk diperhatikan, UAS  belum dilaksanakan, para  siswa bertanya, “Bu, kapan her dilaksanakan?”. Suatu pertanyaan yang multi tafsir. Tafsir yang paling salah  -(mungkin)- adalh keengganan siswa dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi UAS.

Saat menjelang waktu UAS, atau pas istirahat pergantian mata ujian, sangat jarang ditemukan siswa memegang buku atau persiapan untuk menghadapi soal-soal ujian.  Mereka lebih banyak duduk-duduk dambil ngobrol yang tidak ada kaitanyya dengan mata ujian.  Usaha para guru agar para siswa sadar akan pentingnya sekolah dan belajar masih jauh panggang dari api.

Pertanyaan yang sering bekecamuk dalam pikian para guru adalah, “Benarkah engkau sekolah, Nak?”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *