Aku Iri Padamu

Advertisement

Kemarin sore, Senin bakda simakan Quran di sekolah aku bergegas menjemput anakku pulang dari Solo. Seperti biasa aku jemput di Siyono. Ternyata sudah ada istri, dua keponakannku, dan Alfis, anak mbarepku. Mereka sepakat ke JEC lihat pameran komputer.

Ku kendalilikan pantherku. Sampai perempatan Patuk setir kuputar ke arah Ngoro-oro. Tidak jelas pasti siapa dan apa yang akan saya tuju. Saya berfikir akan menjadi kebahagian yang tidak terduga kalau aku dapat menemukan durian. Kebetulan mereka penghobi durian.

Tengok kanan-kiri. Sudah sangat jarang kami jumpai onggokan durian. Sampai di pertengahan menuju Ngoro-oro, saya ketemu sahabat saya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setelah ngobrol sebentar dilanjutkan shalar asar berjamaah di masjidnya, kami pun diajak mampir ke rumah.

Dari aromanya, sudah terbayang rasanya. Di teras sudah tersedia lima durian besar-besar. Kami berlima segera menyikapi durian itu sebagaimana mestinya. Satu keponakannku yang memang belum pernah merasakan nikmatnya durian. Dari wajahnya sudah terbaca kemauannya, bahwa sesungguhnya sedang berperang antara ingin dan fikiran nigatif terhadap durian itu. Kusodori sediit, dicicipi.

Di tengah keasyikan itu kami berdua ngobrol perjuangan. Iri aku. Yang sudah saya lakukan belum seberapa daripada yang Beliau lakukan. Katanya, “La, mau apa lagi to, Pak. Istri sudah punya, anak sudah punya, rumah sudah punya, usaha sudah punya. Kita kan tinggal ibadah. La, apalagi yang kita cari. Semua sudah diberikan Allah kepada kita“.

Sate madura lewat. Pesanan segera dibuat. Renacana jajan pun urung. Nikmat luar biasa. APalagi dibumbui dengan ramuan indah kisah perjalanan dakwah yang tidak dipisahkan dengan kehidupan.

Kang, aku iri padamu. Semoga Allah memberkahimu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *