Dengan Dadu Mereka Menentukan Pilihan

Advertisement

Jadwal Ulangan Tengah Semester (UTS) jam I adalah Bahasa Arab.  Kebetulan saya mendapat tugas menunggui di salah satu ruang.  Biasanya setiap ruang ditunggui oleh dua pengawas. Entah karena apa, pasangan pangawas saya tidak hadir. Ruang terisi dua kelas, yaitu kelas 7 dan kelas 8. Masing-masing 11 peserta dan 10 peserta. Dan ruangan itu pun hanya saya pengawasnya.

Suasana hening pada menit-menit awal. Setelah kira-kira 20-an menit, suara geliat dan gesekan pantat mulai menyeruak di ruangan. Bisik-bisik antar peserta UTS pun mulai terdengar. Dari wajah dan sikap peserta didik, saya mengira bahwa sebagian besar mereka kesulitan menentukan jawaban kepastian.

Banyak cara untuk mendapat jawaban dari teman. Namun, karena rata-rata mereka juga tidak dapat memberikan jawaban kepastian, jawaban yang paling banyak munculk adalah ketidakbisaan yang di peragakan dengan gelengan kepala.

Ada yang menarik sekaligus membuat saya prihatin. Di antara peserta UTS ada dua peserta yang duduk salam satu meja asik bermain setip (penghapus). Penghapus tersebut dikocok-kocok dalam dua genggaman tangan lalu dilihat.  Hasil lihatannya tersebut kemudian dipindahkan ke lembar jawaban.  Setelah  kira-kira dilakukan 3-4 kali secara bergantian, saya memastikan apa yang mereka lakukan. Astaghfirullah,  ternyata setip tersebut di empat sisinya ditulis huruf A,B,C,dan D layaknya dadu.

Saya tegur mereka. Tanpa merasa bersalah atau pun berdosa  peserta didik yang masih duduk dibangku madrasah kelas 7 dan 8 tersebut menghentikan lakunya.

“Apa sulit?”, yanya saya.

“Ya, Pak!”, jawabnya tegas.

“Dapat membaca tulisan Arab itu? Dan apa tahu maksudnya?”

Mereka diam. Hal tersebut mengindikasikan keraguan dan sekaligus ketidak pastian.

Sebagai pendidik, saya prihatin.  Keprihatina saya terwujud ke dalam beberapa masalah:

  1. Benarkah peserta UTS ini memang belum dapat membaca tulisan Arab (Al-Quran)?
  2. Tepatkah penyamaan materi keagamaan(khususnya bahasa Arab) untuk anak-anak MTs khususnya yang meraka itu tidak semua berasal dari madrasah ibtidaiyah (MI)?
  3. Karakter mana dan apakah yang mesti dimiliki peserta didik sehingga mereka berani jujur menjawab sebisanya (dalam arti positif)?

Tentu masih banyak hal dapat didiskusikan.

Waktu terus berjalan. 90 menit yang disediakan untuk mengerjkan 40 soal terasa sangat panjang. Berkali ulang  pun soal-soal itu dibaca, tidak datang  juga kepastian jawaban yang harus dituliskan. Karena, prasyarat untuk mengikuti pelajaran Bahasa Arab di MTs tersebut belum/tidak dimiliki oleh peserta UTS.

Bagaimana dengan peserta didik di madrasah/sekolah Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *