RT-an dengan Sepak Bola

Sepak Bola merupakan olah raga segala lapisan. Pecintanya pun tak mengenal kelas. Dari pejabat sampai rakyat lapisan bawah kepung di depan layar TV menyaksikan sepak bola. Tidak terkecuali malam ini, Ahad, 31 Maret 2013

Pertemuan rutin RT 01/10 Tembesi, Ponjong, Ponjong, Gunungkidul sangat istimewa. Pertemuan yang biasanya diisi dengan berbagai informasi dan rembuk warga, malam tadi khusus disepakati menyaksaikan sepak bola yang disiarkan salah satu TV suwasta. Mendadak, ternyata semua anggota RT menjadi penonton sekaligus komentator.

Yang saya heran, ternyata bapak-bapak yang jauh dari informasi kota tersebut sangat apal dengan para pemain sepak bola kelas dunia. Tidak sedikit pula, nama para pemain tersebut diganti dengan ciri yang menonjol dari pemain tersebut. Mereka benar-benar merdeka dan lepas bersorak, berkomentar, bahkan menghujat pemain maupun pemainan.

Liverpool sukses memetik kemenangan saat melawat ke kandang Aston Villa dalam lanjutan Premier League. Sempat tertinggal di babak pertama, The Reds akhirnya memetik kemenangan tipis 2-1.

 

 

Siapa yang Tadi Malam Belajar?

Sebenarnya sudah saya duga jawaban yang akan saya terima dari para siswa. Benar, dari 76-an siswa kelas IX yang sebentar lagi akan menempuh ujian, tidak ada seperempatnya yang mengacungkan tangan sebagi tanda bahwa tadi malam mereka  belajar. Jawaban-jawaban serupa  sering, dan amat sering saya temukan. Hal tersebut tidak hanya di tempat tugas baruku, MTs Negeri Sumbergiri, Ponjong, Gunungkidul, tetapi di tempat tugas lama pun sama (MTs Negeri Semanu GK).

Sering saya bertanya, mungkinkah ini fenomena yang menggejala di kalangan siswa kita? Lalu, apa yang menyebabkan demikian, dan apa solusinya?

Ternyata sama. Ketika saya berbincang dengan beberapa kepala sekolah/madrasah tentang kemalasan siswa belajar hampir merata di sekolah/madrasah. Khususnya siswa yang berada di pinggiran. Para siswa banyak melakukan kegiatan di luar statusnya sebaga pelajar. Kegiatan yang mereka lakukan lebih banyak yang sifatnya fun (hiburan). Thongkrongan, kebut-kebutan atau balapan liar, ps-an, atau game, habis waktu di depan TV, atau asyik dengan berjam-jam hp-an.

Ketika saya tanya, “Apa yang menghambat atau mengganggu kamu belajar?”. Jawaban secara berurutan sebagai berikut: HP, TV, Sepeda motor. Para siswa  tersebut rata-rata paling sedikit melakukan SMS 100 transasksi. Bahkan ada siswa yang melakukan penghapusan sms baik yang terkirim atau yang masuk dalam satu hari sampai empat kali karena penuh.  Dalam hal melihat TV dalam satu hari rata-rata lebih dari tiga jam. Pada saat ditanya tentang waktu belajar, tidak ada siswa yang menjawab belajar lebih dari dua jam sehari.

Para siswa melakukan belajar yang paling banyak pada saat ada PR. Dan mengerjakan PR itu anggapannya sudah belajar. Ini dapat kita mengerti bahwa siswa kita memang banyak yang belum paham apa itu belajar. Rasa tanggung jawab terhadap proses pembelajaran pun sangat rendah. Jangankan membuat ringkasan materi elajaran. Dari siswa 76 yang membuat ringkasan materi pelajaran yang akan di-UN-kan tidak mencapai 20 siswa. Meskipun kita tahu, meringkas materi pelajaran bukan suatu keharusan. Namun, paling tidak denga  membuat catatan kecil atau ringkasan materi pelajaran menunjukkan bahwa siswa tersebut belajar dan tanggung jawab.

Mendapatkan solusi yang jitu agar siswa mau belajar memang tidak gampang. Perhatian yang tidak fokus kepada status dan tanggung jawabnya sebagai siswa harus mendapat perhatian khusus dari semua pihak: guru, orang tua, dan masyarakat. Sayangnya, saat ini orang tua dan masyarakat cukup membebankan keberhasilan pendidikan atau sekolah para siswa itu hanya ke sekolah/madrasah. Orang tua dan masyarakat seakan telah lepas tanggung jawabnya terhadap perkembangan para siswa.

Yang juga mungkin perlu mendapat perhatian khusus adalah metode pembelajaran yang memungkinkan para siswa menjadi tumbuh kemauannya untuk mengerti, mendalami, dan mengembangkan ilmu. KBM yang monoton memang sangat membosankan. PR terberat guru akhirnya membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Untuk itu, guru harus benar-benar dapat menganalisa apa dan bagaimana metode yang dapat diterima ara siswa tersebut.