Terimakasih Anakku

Nak, sebenarnya aku bangga saat kamu bersemangat menjemput asa. Kau ikhlas tinggalkan keluarga, handai taulan, dan kampung halaman. Satu yang kamu inginkan; masa depan.

Berjalannya waktu, seiring itu pula kamu mulai dewasa. Semakin kokoh kakimu,  makin membaja hatimu, dan makin realislis yang kamu mau. Namun, ada di antara kamu yang makin nglokro, kelihatan kurang bersemangat untuk mewujudkan yang pernah diinginkan saat itu. Mereka lebih kepada kemalasan dan sekedar ingin keturutan apa yang diinginkan saat ini. Continue reading “Terimakasih Anakku”