Tadi Jajan Apa, Nak?

Kita mengenal tri pusat pendidikan: sekolah, rumah, dan masyarakat. Artinya, pendidikan yang terjadi pada peserta didik berada dan dipengaruhi oleh ketiga pusat pendidikan tersebut. Namun, akhir-akhir ini gema dan makna istilah tersebut mulai menghilnag. Menghilang bersamaan semakin acuhnya masyarakat terhadap nasib pendidikan kita.

Sekolah/madrasah kemudian menjadi biang keladi segala nasib yang menyangkut produk pendidikan. Terlebih jika produk pendidikan gagal, yang akan mendapat tudingan pertama adalah kegagalan sekolah/madrasah dalam menyelenggarakan pendidikan. Kita lupa, bahwa peran sekolah / madrasah hanya 1/3 dari proses pendidikan yang sebenarnya. Yang 2/3 selebihnya adalah peran di rumah dan di tengah masyarakat.

Sangat tidak adil jika sekolah/madrasah kemudian dikatakan sebagai penyebab tunggal keberhasilan / kegagalan pendidikan. Tanpa peran orang rumah (keluarga) dan masyarakat terhadap proses pendidikan maka jauh panggang dari api pendidikan akan menghasilkan pribadi-pribadi unggul dan berkarakter sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Sekarang, sangat minim prosentasenya peran/dan tanggung jawab orang tua dalam melibatkan diri dalam proses pendidikan. Terlebih saat digembrokan sekolah gratis. Segala biaya ditanggung pemerintah. Orang tua lepas tangan terkait pembiayaan, yang terjadi rasa tanggung jawab dan rasa handarbeni orang tua terhadap proses pendidikan menjadi lemah. Paling tidak ini yang terjadi pada pendidikan tangkat dasar (SD/MI dan SMP/MTs).

Penulis berkesempatan diundang dalam rangka motivasi bagi orang tua/wali siswa kelas 9 dalam rangka menghadapi di suatu MTs Negeri di Gunungkidul Yogyakarta. Saat itu penulis berkesempatan berdialog dengan 90-an wali tersebut..

“Siapa yang sering menanyakan hasil ulangan anaknya di madrasah?”. Nihil; tidak satu pun orang tua yang tunjuk jari sebagai pertanda mengiyakan. “Siapa yang sering menanyakan ada / tidaknya tugas atau PR bagi anaknya?”. Jawabnya sama, nihil. ” “Siapa yang tahu jadwal kegiatan anaknya menjelang ujian?”. Sama jawabnya, tetap nihil.  “Siapa yang menanyakan uang jajan anaknya, bahis, sisa, atau untuk jajan apa?”.  Luar biasa, 75% orang tua angkat tangan.

Beda lagi untuk orang tua/wali siswa tingka SD/MI. Setiap anak pulang yang ditanyakan pertama tadi jajan apa. Uangnya masih atau tidak Jarang sekali mengecek dan bertanya tentang apa yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah/madrasah.

Peristiwa dai atas tentu tidak dapat digeneralisasi untuk keumuman masyarakat. Namun, itulah yan terjadi di lingkungan penulis memenmpat. Penulis rasakan, adanya sikap dan rasa tanggung jawab akan proses dan hasil pendidikan dari orang tua yang sangat lemah. Satu diantara penyebabnya adalah tidak adanya keterlibatan orang tua dalam proses, dainataranya pembiayaan. Ini mengakibatkan rasa handarbeni menjadi lemah.

 

Guru Agak Lega

Kurikulum pendidikan selalu berubah. Perubahan yang diharapkan adalah semakin meningkatnya mutu pendidikan Indonesia. Perubahan dari Kurikulum 2016 (KTSP) ke Kurikulum 2013 masih sangat dirasakan memberatkan para guru dalam melaksanakan ketugasannya. Adanya banyka masukan akan lebih-kurangnya Kurikulum 2013 akhirnya dilakukan evaluasi. Diharapkan dari evaluasi tersebut akan ada kurikulum yang siap saji dengan segala kenyamanan dalam pelaksanaannya.

Memasuki tahun pelajaran 2016/2017 ada kabar yang (agak) menggembirakan para guru. Standar penilaian yang selama ini dianggap memberatkan tugas guru saat ini ada titik terang. Sebagaimana yang disampaikan oleh Petinggi Kemendikbud beberapa waktu yang lalu, bahwa guru fokus menilai pada ranah kognitif dan psikomotorik. Sedangkan ranah afektif oleh guru agama dan PKn. Bukan berarti guru tidak boleh memberikan penilaian ranah afektif, tetap. Guru tetap menilai semua ranah. Hanay saj secara teknis nilai akhir dapat didiskusikan dengan guru agama dan PKn.

Dan guru harus tahu tentang perubahan mendasar pada kurikulum 2013 (terbaru ini). Semuanya dapat diunduh di www.kurikulumnasional.net.

 

Over Dosis Ujian

Istilah over dosis telah mengalami pergeseran makna ke arah negatif. OD singkatan kata tersebut saat ini lebih dimaknai dengan perilaku negatif: minum minumab beralkohol melebihi ketentuan yang seharusnya. Sebenarnya kata tersebut dapat digunakan dalam hal lain. Dunia pendidikan, misalnya.

Anak-anak kita yang saat ini kelas 9 di MTs, dikahwatirkan juga mengalamai OD. Bukan masalah minum minuman beralkohol sehingga membuat anak-anak itu mabuk. Namun, mabuk ujian. Dengan berbagai istilah sejak bulan Februari anak-anak kelas 9 telah dilatih mengerjakan soal-soal ujian. Dan sayangnya, latihan ujian tersebut hanya mengarah kepada soal-soal mata pelajaran tertentu yang terkait dengan Ujian Nasioanl (UN). Pelajaran lain “yang tidak penting” menjadi tidak terperhatikan.

Anak pun mabuk. Karena telah banyak dan berulang dengan “dijejali” soal-soal akhirnya menjadi lelah. Pikiran terkuras, tenaga lemas. Bahkan dikhawatirkan anak-anak tersebut pada saatnya nanti harus mengerjakan saol-soal junian nasional malah mengalami depresi. Dikhawatirkan pada saat yang seharusnya anak-anak fress menghadapi ujian malah sebaliknya, mabuk dan stress.

Akibatnya, hasil UN tidak maksimal. Nilai mata pelajaran selain UN juga asal-asalan kaena kurang terperhatikan tersebut.   Lalu, apa yang sebenarnya apa yang dipentingkan dalam pendidikan kita ini? Dengan berbagai ujian dan sering melupakan cara-cara yang mendidik jangan-jangan kita terjebak pada pencarian yang salah. Yaitu sekedar mencari angka. Bukan mencari nilai. Nilai-nilai karakter positif yang menjadi jargon pendidikan kita. Sebaliknya kita hanya kemudian puas dengan perolehan angka dengan mengabaikan nilai-nilai tersebut.

Gila, karena motivasinya bukan lagi nilai-nilai, terbukti dua kepada SMA di Makasar menjual/mengedarkan kunci jawaban kepada para siswa peserta ujian nasional. Apakah yang seperti ini yang diharapkan mencetak gerenasi berkarakter? Wah, jika denikian cara-cara yang dilakukan, maka harapan pendidikan kita bermutu masih jauh panggang dari api.