Sudah Aku Pasrahkan ke Sekolah

Advertisement

“Bu, maaf. Saya sudah tidak sanggup mengajar Tino. Sejak kelas 5 lalu sebenarnya saya sudah kewalahan menghadapi kenakalannya. Saat saya visitasi dulu, bapak dan ibunya ternyata cuek dengan kelakuan anaknya. Malah menyalahkan saya sebagai gurunya. Nah, kemarin saya sampaikan kepada bapaknya, bahwa Tino tidak pernah mau mengerjakan tugas maupu soal-soal latiha  ujian.

Kemudian saya tanyakan, apa di rumah Tino sering didampingi belajarnya. Jawab bapaknya, “Boro-boro mendampingi Tino belajar, Bu. Kan sudah saya sekolahkan. La, kalau orang tua di rumah harus masih nungguin, ngajarin,dampingin belajar buat apa sayab sekolahkan. Kan, sudah aku pasrahkan ke sekolah.”

Para guru serasa sudah kehabisan jurus  untuk menasehati para siswanya. Nasihatnya sudah tidak mendapat perhatian siswa. Siswa asik dengan urusa sendiri, seakan tidak lagi memerlukan seorang guru. Kebanyakan siswa datang ke sekolah bukan untuk menuntut ilmu. Para siswa datang sekedar ketemu teman, jajan, atau bermain.Meskipun tidak dapat digeneralisasikan, namun kenyataan di atas adalah benar adanya.

Banyak orang tua pasrah bongkokan terhadap nasib anaknya kepada sekolah. Sekolah baginya adalah bengkel. Sebagai mana fungsi bengkel pada umumnya, semua pasien yang keluar dari bengkel  akan lebih baik.  Sayangnya, orang tua kurang menyadari bahwa anak yang dititipkan di sekolah tidak cukup dididik di sekolah saja. Anaknya mengalami proses pendidikan di mana saja anak berada. Dapat di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat.

Tri pusat  pendidikan yang selama ini kita pahami dan kita pahamkan kepada masyarakat  pupus. Artinya, pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan anak didik tidak hanya ditentukan oleh sekoah saja serasa sudah hilang. Akibatnya, sekolah menjadi sasaran utama untuk disalahkan tatkala adanya kegagalan di dalam pendidikan.  Orang tua sebagian besar tidak perduli, jika ternyata anaknya nakal  itu karena pengaruh  lingkungan di mana dia berada. Bahkan, terkdang orang tua lupa, bahwa sesungguhnya kenakalan anak tersebut karena adanya contoh dari orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *