Guru Madrasah

Samakah guru madrasah dengan guru pada sekolah umum? Jawabnya beragam. Dapat sama. Dapat pula berbeda. Perbedaan jawaban tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya. Secara umum  setiap guru memiliki kompetensi sama. Namun, ketika  ada yang mengatakan bahwa dirinya mengajar di madrasah, orang yang mendengar langsung memiliki prasangka guru tersebut memiliki kompetensi keberagamaan lebih.

Perlu ditindaklanjuti anggapan  tersebut. Benarkah guru madrasah rata-rata memiliki kompetensi keberagamaan lebih daripada guru di luar madrasah? Jawaban atas masalah tersebut adapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, aktifitas guru tersebut dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keberagamaan dalam hidup kesehariannya. Kedua, guru madrasah banyak terlibat dalam kegiatan keagamaan, baik di madrasah maupun di masyarakat. Ketiga, kegiatan keagamaan di madrasah lebih banyak dan lebih berkualitas. Keempat, tingkat keberagamaan siswa madrasah lebih dari pada siswa sekolah umum. Tentu masih ada aspek lain yang dapat mencirikan kompetensi keberagamaan guru madrasah. Continue reading “Guru Madrasah”

Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah

Bagi madrasah, pengawas hanya ada satu:  pengawas PAI.  Pengawas tersebut benar-benar “hebat”. Orang Yogya menyebutnya pengawas Raden Ngabehi. Raden Ngabehi bukan gelar keraton. Tidak lebih sekedar bahasa sindiran untuk para pengawas yang serba bisa dan serba tahu tersebut. Toh kenyataannya mereka sadar tidak kompeten, namun aturanlah yang memaksanya menjadi itu.

Pengawas di madrasah (Departemen Agama)  memiliki tugas yang berat. Selain mengawasi kinerja para guru PAI, beliau juga harus mengawasi guru mata pelajaran umum. Apa ini tidak hebat? Bayangkan saja, pengawas yang memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Arab, karena jabatannya harus mengawasi mata pelajaran lain. Hasilnya? Continue reading “Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah”

Guru PNS makin Sejahtera

Gaji guru PNS akan naik.  Mulai Januari 2009 guru PNS akan mendapat tambahan gaji  sebesar 250 ribu per bulan. Tentu disambut gembira oleh para guru yang bisa merharap akan menerima.  Hanya saja tambahan tersebut dikhususkan bagi guru PNS yang belum mendapat tunjangan sertifikasi.

Lalu bagaimana nasib guru yang sudah lulus sertifikasi dan telah menyandang sebagai guru profesional, akankah segera mendapat haknya? Pertanyaan yang sering muncul tersebut sulit ditebak jawabnya.  Ada pakar yang berkomentar,

“Jika pemerintah harus membayar tunjangan guru yang telah tersertifikasi saat ini, lalu uang dari mana?”

Pernyataan tersebut sempat membuat sesak nafas para guru yang sudah lulus dan tinggal nunggu ngucurnya tunjangan. Continue reading “Guru PNS makin Sejahtera”

Merdeka

Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dari tingkat RT sampai kenegaraan tertuju pada satu peristiwa: HUT Kemerdekaan Indonesia.

Paling tidak di desaku, Ponjong, Ponjong, Gunungkidul. Kesepian malam sebulan ini terkoyak oleh keramain berbagai kegiatan untuk merayakan kemerdekaan itu. Meski tidak semua warga masyarakat desa itu tahu apa sesungguhnya makna kemerdekaan itu. Di antara mereka ada yang memaknai merdeka adalah tidak dijajah Londo lagi; tidak dijajah Nipon lagi.  Yang sudah kanjut usia, dan masih segar ingatan masa lalunya akan berapi-api menceritaakan pahitnya masa penjajahan.  Bebera kata Londo maupun Nipon masih melekat betul dalam ingatan.  Continue reading “Merdeka”

Susahnya Untuk Sholat

Dalam benak saya, madrasah adalah sekolah agama. Paling tidak pelajaran agama akan lebih banyak daripada sekolah umum. Ini pun terbukti. Dalam struktur kurikulum madrasah (baca MTs)  pelajaran PAI ada  6 jam di tambah 2 jam bahasa Arab. Sedangkan di sekolah umum hanya ada 2 jam.

Harusnya, siswa madrasah lebih baik beribadanya  dan memiliki kualitas keimanan yang prima.  Ternyata tidak sepenuhnya benar. Pengalaman dan kenyataan tersebut saya rasakan sejak tahun 1992,  pertama kali saya menjadi guru di sebuah MTs.  Kumandang adzan tidak segera disambut dengan bergegas ke tempat wudlu. Siswa harus di”uyak-uyak”, digiring, bahkan dipaksa agaar mau malksanakn sholat.  Sekali lagi, meskipun ini tidak mewakili semua madrasah, namun ini yang penulis rasakan di beberapa MTs di Gunungkidul. Continue reading “Susahnya Untuk Sholat”

Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU

Meskipun pemerintah tidak mengahruskan seragam sekolah, tetapi kenyataannya hampir semua sekolah menetapkan segaram bagi peserta didiknya.  Peringatan  pemerintrah, agar sekolah tidak  mengadakan/mewajibkan apalagi mengelola pengadaan seragam ternyata tidak sepernuhnya mendapat perhatian pengelola sekolah. Ada saja alasan agar (akhirnya) sekolah mengelola seragam. Tidak rahasia lagi,  setiap sekolah yang mengelola seragam bagi peserta didiknya,  ada keuntungan yang pasti didapatnya.

Di Yogya misalnya. Adanya larangan sekolah mengelola pengadaan seragam, tidak mengurungkan usaha pengelola sekolah agaar bisa tetap mengelola. Bahasa dan caranya saja yang (sedikit) berbeda.  Satu di antara usaha tersebut adalah dengan cara menggiring siswa/para wali agar sekolah memfasilitasi pengeadaan seragam. Lalu, dibuatlah surat (yang seakan-akan datangnya  dari wali) yang isinya permohonan. Permohonan kepada sekolah agar difasilitasi pembelian seragam.  Surat dari wali tersebut dijadikan bukti bahwa ada permintaan dari wali kepada sekolah.  Continue reading “Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU”

Murid Baru

Tidak hanya anak yang bingung. Orang tua pun lebih bingung.  Ketika hari penerimaan calon anak didik baru tiba, menyemut orang tua dengan anaknya menuju sekolah yang difaforitkan. Mereka itu rata-rata siswa yang memiliki angka hasil ujian nasional bagus. Namun, nilai bagus pun tidak cukup.  Orang tua harus berduit. Lho? Iya, sebab semurah-murahnya sekolah faforit duitnya pasti banyak.  Dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Ada siswa yang memiliki nilai lumayan bagus, rata-rata 9. Ketika ditanya mengapa tidak ke sekolah faforit, jawabnya sangat enteng,

“Tidak punya biaya. Sekolah di sana mahal”.

Lalu bagimana dengan iklan sekolah gratis?  Tentang sekolah gratis ini ada cerita menarik.  Maghrib itu saya pulang dari Yogya. Super Cup 83 yang saya naiki ternyata kempes di jalan.  Saya cari tukang tambal ban. Sambil menunggu hasil tambal jadi, ngobrollah saya dengan si Bapak dari 10 anak itu.  Continue reading “Murid Baru”

Berprestasi Tidak Lulus UN

Siang itu begitu riuh ketika Kepala Sekolah mengumumkan siswa-siswa berprestasi. Ucapan syukur mengiringi para siswa menaiki panggung kehormatan untuk menerima penghargaan. Di tengah kesyukuran itu, ada wali siswa yang bergumam, “Lho, ini sudah wisuda. Apa jelas  para siswa ini lulus?”

Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan mengiayakan dari seorang Bapak dari satu di antara siswa yang berprestasi itu. “Iya. Belum ada pengumuman kelulusan, kok sudah diwisuda. Jangan-jangan banak yang tidak lulus”.

Resepsi wisuda dan pelepasan siswa kelas 12 berakhir menjelang dhuhur. Selam menyalam antarsiswa kelas 12 pun disusul salam menyalam adik kelas. Wajah tidak sedikit pun menunjukkan kedukaan. Itu berlangsung sampai dhuhur.  Continue reading “Berprestasi Tidak Lulus UN”

Pemilu Lucu

Pemilu legeslatif telah berlalu. Namun, masih banyak menyisakan cerita lucu.  Ketika banyak kabar tentang politik uang, Mbok Sapar tidak ketinggalan. Penjual pecel pincuk itu memiliki pengalaman ang tak kalah lucu dengan lainnya.

“Mbok,  pemilu ini Jenengan dapat uang berapa?”

” Al-hamdulillah, Mas. Dari caleg biru  dapat Rp 10.000,00;  dari caleg srengenge suminar dapat Rp 20.000,00; dan tadi pagi bakda subuh dapat dari caleg lombok abang Rp 20.000,00″.

“Lho, lumayan Mbok, Jenengan dapat uang banyak”.

“Iya, Mas. Saya tadi khan tidak jualan”.

“E, Mbok, Maaf. Jenengan tadi pagi pilih apa?”

“Saya to, Mas?  Terus terang, saya tidak memilih apa-apa.  Lha,  saya datang ke tempat nyontreng saja tidak. Saya tidak dapat undangan nyontreng, kok Mas”.

O…

RENUNGAN KARTINI-AN

AIR MATA KARTINI

Usaha Kartini untuk mengangkat harkat martabat kaumnya di bumi Indonesia telah berhasil. Jika saat itu wanita sekedar berperan dan diposisikan sebagai pelengkap, pun penderita, kini telah sejajar. Bahkan,kesejajarannya telah keblablasan. Banyak wanita yang melampaui kodratnya. Segala yang dilakukan kaum pria, hendak ditirunya.
Kartini tetap menginginkan wanita tetap dalam kodratnya. Terlebih sebagai orang timur yang mengedepankan nilai-nilai luhur. Namun, wanita kini telah jauh dari nalai-nilai ketimuran tersebut. Budaya barat telah banyak mempengaruhi pola dan corak hidup wanita kita. Mungkinkah Kartini akan rela melihat kaumnya bila saat ini masih ada?
Kartini adalah sosok wanita religius pada masanya. Melihat kaumnya saat ini pastilah meneteskan air mata. Bukan air mata kebahagiaan. Sebaliknya, air mata kesedihan. Terlebih, saat ini banyak wanita yang sengaja menujual dirinya demi kepuasan nafsunya.
Tentunya, peringatan hari Kartini menjadi tonggak untuk menggali secara arif akan nilai-nilai yang dijuangkan Kartini. Bukan malah sebaliknya. Ada yang merasa telah melestarikan ajaran Kartini, sekedar dia juara nyanggul rambutnya; bangga karena juara megal-megolkan bokong alias senam dengan pakaian super ketat mengundang birahi. Dan ironsnya, banyak wanita yang berpakaian rapi, menutup auratnya demi kehormatan pribadinya menjadi bahan cibiran karena sekedar tidak bersanggul dan berpakain kebaya.
Sekiranya Kartini saat ini masih hidup, pastilah akan memilih berpakaian rapi, rambut tertutup, dan tidak akan membiarkan wanita mengumbar tubuhnya menjadi tontonan mata setan.