Sholat 1000 Warna

Shalat belum menjadi kebutuhan, tetapi lebih menjadi beban. Itulah kesimpulan sementara yang terjadi pada siswa-siswa saya.. Setiap waktu shalat tiba, baik itu untuk melaksanakan dhuha, terlebih dhuhur berjamaah selalu kucing-kucingan dengan para guru atau pembimbing. Acungan jari sebagai jawaban bahwa pagi tidak subuh, atau tidak shalat lainnya menjadi pemandangan yang biasa. Memang sangat memprihatinkan.

Sering dan sudah lama saya bersama sesama guru ngobrol mencari solusi agar para siswa melaksanakan shalat dengan penuh kesadaran. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya shalat bagi para siswa akhirnya menjadi beban juga. Berbagai cara pernah ditempuh. Pernah dengan cara diabsen; dengan cara bergilir tiap kelas paralel; dengan cara digiring; dan masih cara lain yang pernah ditempuh. Namun, hasilnya belum memuaskan.

Belum lagi kalau ada kegiatan yang pas melewati waktu shalat. Sangat sedikit siswa yang kemudian bergegas melaksanakan shalat. Lebih banyak menghindar. Yang sangat mengganjal lagi saat ada kegiatan karnaval tahunan di tingkat kecamatan. Dua kali/dua tahun mengikuti dan mengikutkan para siswa karnaval, ternyata hampir semua meninggalkan kewajiban shalatnya.

shalat seribu rupa

Karnaval HUR RI tahun 2012. Sebagaimana biasa dilaksanakan mulai pukul 13.00 sampai selesai. Karnaval biasanya diikuti semua sekolah dan semua instansi, termasuk dari masyarakat umum. Dua kali itu pula saya merasa prihatin karena para siswa  hanya beberapa saja yang shalat dhuhur dan asar. Karena tema karnaval tahun 2012 ini tentang budaya, seluruh siswa saya ternyata datang di sekolah sudah memakai pakain sebagaimana ditugaskan oleh pembinanya.

“Para siswa, kita akan berangkat menuju lapangan pukul 12.45, maka yang belum shalat agar segera shalat dhuhur!”, demikian seruan  pembina. Seruan, ajakan, dan perintah itu berkali ulang disampaikan. Namun, para siswa tidak beranjak menuju tempat wudlu. Melihat gelagat yang kurang mengenakkan tersebut, kepala sekolah itu membuat gerakan baru. Kepala mengajak beberapa tiga guru untuk membimbing agar semua siswa shalat.

Ketika seluruh siswa diminta masuk mushalla untuk diabsen, ternyata para siswa menaati perintah. Para siswa masuk sesuai petunjuk pembina. Sebelumnya, kepala dengan dua orang guru sudah sepakat, setelah dilakukan absensi para siswa diajari tayamum dan dilaksankan shalat dhuhur sekalin jamak asar.

“Alah, Pak. Hanya tidak shalat sekali saja kan tidak apa-apa”, di antara gerutu para siswa.”Tetap shalat semua, kecuali bagi siswa putri yang haid. Boleh tidak shalat”. Setelah diberi contoh tayamum, diulang beberapa kali, kemudian siswa diminta tayamum semua. Ditunjuklah seorang siswa untuk menjadi imam.

Sungguh saya sadar, bahwa yang saya lakukan memerintahkan para siswa untuk melakukan sahalat dengan pekaian beraneka budaya belum tentu benar. Tetapi itulah kenyataannya. kalau tiak demikian, saya kira para siswa tetap tidak akan melakukan shalat dhuhur, apalagi asar.

“Ya Allah, hamba khilaf. Telah memaksa para siswa untuk melakukan shalat dengan tidak sopan. Air pun  ada, tetapi para siswa hanya saya perintahkan  tayamum saja. Itu, langkah yang paling jitu saat itu . Hanya Engkau yang tahu maksudku”.

 

Pencitraan Madrasah

Pencitraan Madrasah

Pemerintah kita sesungguhnya tidak bermaksud membedakan antara sekolah dengan madrasah. Seluruh produk hukum terkait pendidikan telah menyejajarkan antara sekolah dengan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA. Sehingga tidak boleh lagi ada perasaan bahwa madrasah lebih rendah dari sekolah. Atau sebaliknya. Kalau toh ada perbedaan, sebenarnya hanya terletak pada penciriannya, bahwa madrasah merupakan sekolah bercirikhas Islam. Hal tersebut dibedakan dengan porsi pelajaran Agama Islam, di madrasah 10 jam per minggu termasuk di dalamnya Bahasa Arab, sedangkan di sekolah 2 jam per minggu. Pengelolanya: sekolah pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sedangkan madrasah dikelola oleh Kementerian Agama.
Namun, kenyataannya masih ada sebagian pegawai (baca: guru) Kementerian Agama sampai saat ini yang merasa adanya perbedaan. Diantara anggapan tersebut antara lain bahwa madrasah belum sejajar dengan sekolah, baik itu kualitas maupun kuantitas lulusannya; masih dirasakan bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan kelas dua; madrasah adalah sekolah swasta. Dan masih banyak anggapan minor atau miring tentang madrasah. Akumulasi dari semua anggapan miring tersebut adalah kurang PD-nya guru Kemenag dalam kancah pendidikan ketika bersanding dengan guru Dinas Pendidikan. Hal ini tidak dapat digeneralisasi, namun harus dicari solusinya sehingga para guru madrasah pada saatnya berani menyatakan bahwa dirinya adalah ada.
Untuk menjawab permasalahan di atas dapat dikritisi dari Standar Minimal Pendidikan. Apabila SPM telah terpenuhi oleh madrasah, maka tidak ada alasan para guru madrasah merasa minder atau tidak PD bersejajar dengan guru dinas pendidikan. Artinya madrasah sama dengan sekolah. Untuk itu, madrasah harus mencitrakan diri sebagai lembaga pendidikan yang patut diperhitungkan. Kesan miring masyarakat (-bahkan dari para guru madrasah sendiri) terhadap madrasah harus satu per satu dihilangkan. Meski pelan, harus pasti.
Membuat pencitraan itu bukan pekerjaan gampang. Tentu harus dimulai dengan analisa yang matang sehingga terumuskan apa dan bagaimana langkah strategisnya. Setiap objek masalah harus disertai cara pencitraannya. Dimulai dari yang mudah dilakukan; dari yang kelihatan; dan dari yang cepat dirsasakan hasilnya.
Dapat diambil contoh:
Pergedungan harus ditata rapi, bersih, cat serasi sehingga mengesankan keindahan. Pakaian/seragam pegawai harus rapi, matching, warna menarik, sepatu mengkilap sehingga mengesankan kecantikan dan ketampanan pemakainya. Begitu juga seragam siswa. Civitas madrasah selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat, misalnya bakti sosial/kerja bakti, karnafal, festival atau olimpiade-olimpiade yang melibatkan sekolah umum. Madrasah mengadakan kegiatan yang melibatkan siswa tingkat bawahnya, misalnya MTs mengadakan kegiatan yang pesertanya siswa SD/MI. Guru aktif dalam berbagai kegiatan peningkatan mutu SDM/profesionalisme. Tentu masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan.
Untuk mendapatkan hasil pencitraan yang bagus tentu membutuhkan waktu yang lama dan aktifitas yang tidak mandek. Artinya, usaha pencitraan itu harus dilakukan secara terus-menerus dan selalu diadakan evaluasi. Sampai akhirnya, seluruh civitas madrasah merasa dirinya benar-benar sejajar, syukur unggul dari sekolah umum. Pekerjaan yang tidak mudah setelah usaha pencitraan itu brehasil adalah mempertahankan citra baik tersebut ke masa depan.
Sebenarnya pegawai kemenag, khususnya pengelola madrasah saat ini sudah saatnya merasa berada pada posisi unggul. Fasilitas KBM di madrasah tidak jauh berbeda dengan sekolah. Terutama madrasah negeri fisik pergedungan benar-benar telah bersaing dan bahkan lebih baik dari sekolah sekitarnya. Media pembelajaran pun demikian. SDM atau para guru pun telah memenuhi standar profesionalitas. Apalagi PNS-nya sering dicemburui karena adanya uang lauk-pauk.
Ketika masalah dan solusi teknisnya telah dirumuskan, untuk dapat mengangkat harkat dan martabat madrasah adalah kecerdasan para pemangkunya untuk bersyukur. Bersyukur dalam arti luas dan cerdas. Bersyukur dalam arti aktif, kreatif, inovatif, dan penuh dedikasi. Semua kesan miring tentang madrasah: guru/SDM, KBM, sarana-prasarana harus benar-benar terjawabkan. Pada saatnya seluruh civitas madrasah berani berdiri tegak, berjalan tegap, dan memandang lurus ke depan sebagai bukti bahwa keberadaannya telah benar-bebar diperhitungkan oleh masyarakat luas.
Kapan hal tersebut akan terwujud? Saat ini, dari yang paling kecil, dan dimulai dari setiap diri pemangku madrasah.