Gaji Guru Bisa Jadi Korupsi

Dibandingkan dengan pegawai lain, tentu ini yang guru PNS, guru ternyata menjadi pegawai yang memiliki gaji tinggi. Merngapa tidak? Bisa kita lihat, hampir tiap tahun naik. Belum lagi dengan tunjangan proefesi. Pokoknya seambrek, deh gajinya.

Lalu, ketika pemerintah telah memperhatikan nasib ekonomi Guru PNS,  bahkan sampai pada batas lebih cukup, mulai menggeliatkah nasib keterpurukan penedidikan kita? Tidak heran, jika sebagian masyarakat saat ini menun ggu dan sekaligus menagih janji akan adanya perubahan yang siknifikan antara kesejahteraan guru dengan perbaikan mutu pendidikan.

Mungkin tidak semua, namun ini sekedar bisa menjadi koreksi, sampai saat ini masih banyak guru yang melaksanakan tugas seenaknya. Tiga tahapan yang harus dilalui pun kadang terabaikan: merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi.  Guru yang sadar bahwa kurikulum/KTSP adalah kunci pembelajaran belum banyak.  Dalam kegiatan pembelajaran masih banyak guru yang benar-benar tergantung dengan buku pelajaran. Sehingga, buku adalah satu-satunya sumber pembelajaran.  Ini belum kita lihat cara mereka mengajar. Masih banyak yang tradisonal.  Murid bak gelas kosong yang selalu  diisi tanpa diajak ekpresi.

Evaluasi hasil pembelajaran? Parah lagi. Banyak siswa komlen mengapa hasil pekerjaannya  tidak pernah atau jarang yang dikembalikan kepada siswa. Lalu muncul su’udzon dari siswa, “Ah, ndak  usah ngerjakan sungguh-sungguh toh tidak dikoreksi olah guru”.

Ini masalah. Ini tanggung jawab guru.

Sebenarnya apabila guru sadar akan tanggung jawabnya sebagai guru dan pendidik dengan gaji yang lumayan tersebut, pelan tapi pasti geliat ke arah mutu pendidikan akan kelihatan. Nah,  sekarang harus ada gerakan penyadaran akan tugas guru tersebut.

Peran-peran pengawas menjadi sabagain kunci akan keberhasilan guru  dalam melakasakan tugasnya. Dan pengawas pun  harus benar-benar tahu akan tupoksinya. Jangan ada kesan, pengawas hanya mencari kesalahan tetapi tidak dapat memberikan pengarahan dan contoh yang baik.  Ini artinya, pengawas pun harus profesional.

Sekali lagi, guru telanjur jadi profesi.  Apa pun yang dilakukan guru aknj banyak dilihat banyak pihak. Apabila hal terebut tidak segera disadari, bisa menjadi kecemburuan yang negatif terhadap guru, Dan martabat guru pun bisa jatuh dalam pelukan ketidak berdayaan karerna mendapat cemoohan.

Ayo, kita buktikan bahwa kita bisa. Dengan gaji yang semakin melambung, mutu pendidikan kita harus kita dongkrak. Jangan terlena setiap hari tambah gaji, tapi dibalik gaji ada tanggung jawab kepada Yang Maha Suci.  Bila tidak hati-hati, gaji bisa jadi korupsi.

11 thoughts on “Gaji Guru Bisa Jadi Korupsi

  1. Semangat pak … semoga dengan banyak yang meniru apa yang bapak lakukan ini kualitas pendidikan semakin maju.
    Dan satu lagi, hentikan pungutan liar dan biaya – biaya yang mengatasnamakan pembangunan dan peningkatan kualitas pendidikan yang ujung – ujungnya adalah korupsi…

    1. Kalu bicara korupsi nyaris sudah korupsi disemua lini,mulai dari rakyat biasa sampai ke pejabat.Guru masih juga menunaikan tugas,pemandangan yang tampak yang tidak tugas masih digaji.

    2. Pengawasan memang diperlukan, gaji guru sudah lumayan dan seharusnya diimbangi dengan kualitas seorang guru. Guru bukan tenaga pengajar, tapi panutan teladan. Kalau datang lalu mencatat apa yang ada dipapan tulis (dan itu biasanya sekretaris kelas) saya juga bisa. Malah ada guru yang dating lalu tidur di kursinya (tentu saja sekretaris mencatat di papan tulis).

  2. memang benar gaji yang didapat seharusnya diimbangi dengan tanggung jawab dan hati yang amanah, sehingga tidak puas dengan keberhasilan yang dicapai meski tetap menyadari sebagai karunia ALLAH Subhaanahu Wata’aala yang harus disyukuri dengan selalu muhasabah dan selalu membina team work di tempat guru profesional menjalankan tugasnya sebagai pengajar sekaligus sebagai pendidik.

  3. sy sangat setuju dengan guru yang bekerja penuh tanggung jawab dan mengetahui tupoksinya, shg bila dia tdk mengetahuinya maka bisa dikatakan korupsi uang negara

  4. Bahaya pak, mau dikemanakan generasi kita jika UN sebagai standar kelulusan……………akhirnya banyak tuntutan untuk lulus 100%,(tidak siap untuk mengulang jika tidak lulus)

  5. Alhamdulillah, sebagai guru, saya bersyukur setelah melalui beberapa proses dan memenuhi berbagai persyaratan, saya bisa mendapat tunjangan sertifikasi. Saya juga bersyukur karena teman – teman PNS di departemen lain, juga mendapatkan tunjangan “remunerasi”, yang sepertinya tidak harus melalui tahapan serumit kalo guru dapat sertifikasi. Semoga baik guru maupun siapa saja bisa lebih amanah menjalankan tugasnya sesuai Tupoksi masing-masing, sehingga rizki yang kita dapatkan akan semakin berkah. Amiin.

  6. Begitu banyak perkataan yang menyakitkan jika kesejahteraan guru meningkat… mereka yang bicara tidak sadar kalau mereka dulu pernah jadi murid… asal tahu saja tunjangan sertifikasi yang kami terima digunakan untuk membiayai sekolah dan kuliah anak-anak kami. Jadi…. kepada pihak yang suka berkomentar miring alangkah baiknya introspeksi diri masing-masing… masih banyak guru yang baik dan bertanggungjawab dalam tugasnya….

  7. Insyaalloh guru bisa melaksanakan tugas utamanya yaitu mendidik dan mengajar membimbing dan mengevaluasi sebagaimana telah di sebutkan dalam tupoksinya sebagai guru. Dalam hal ini perlu ketegasan dari kepala sekolah dan para PKS nya juga pengawas harus sering terjun ke setiap sekolah mengecek administrasi guru dan kehadirannya di dalam kegiatan belajar mengajar.Sebagaimana karyawan perusahaan atau pegawai lainnya guru juga punya kharakteristiknya masing-masing ada yang rajin, yang malas, yang cepat, yang lambat dan sebagainya namun masyarakat jangan langsung mencap atau menjudge banyak guru yang tidak qualified. jangan dicap negatif semua. Tugas mengajar dan mendidik dilaksanakan berkesinambungan tidak bisa dalam waktu yang singkat karena pendidikan itu dilaksanakan seumur hidup. Lifelong education. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *