Aku Iri Padamu

Kemarin sore, Senin bakda simakan Quran di sekolah aku bergegas menjemput anakku pulang dari Solo. Seperti biasa aku jemput di Siyono. Ternyata sudah ada istri, dua keponakannku, dan Alfis, anak mbarepku. Mereka sepakat ke JEC lihat pameran komputer.

Ku kendalilikan pantherku. Sampai perempatan Patuk setir kuputar ke arah Ngoro-oro. Tidak jelas pasti siapa dan apa yang akan saya tuju. Saya berfikir akan menjadi kebahagian yang tidak terduga kalau aku dapat menemukan durian. Kebetulan mereka penghobi durian. Continue reading “Aku Iri Padamu”

Ujian bagi Si Kusta,Si Kudis, dan Si Buta

Dari Abu Hurairah RA, dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Pada zaman dahulu, ada tiga orang Bani Israil yang terserang penyakit yang berbeda. Yang satu terserang penyakit kusta, hingga mempunyai kulit yang belang. Yang satu lagi terserang penyakit kudis, hingga kepalanya botak. dan yang terakhir terserang penyakit buta. Karena ingin menguji keimanan tiga orang ini, maka Allah pun mengutus seorang malaikat kepada mereka.

Pertama kali, malaikat itu pergi mendatangi orang yang berpenyakit kusta dan belang seraya berkata, “Apakah yang paling kamu sukai hai hamba Allah?”

Si Belang menjawab, “Warna dan kulit yang bagus serta hilangnya rasa jijik orang lain kepada saya adalah suatu hal yang paling saya sukai.” Continue reading “Ujian bagi Si Kusta,Si Kudis, dan Si Buta”

Benarkah Engkau Sekolah, Nak?

“Anak-anakku yang selalu saya sayangi, Bapak bangga melihat kamu berbaris rapi Senin ini.  Pakainmu juga rapi. Tentu membuat Bapak semakin senang mendoakanmu agar kalian kelak dapat meraih cita-citamu”, dekimian pembuka pembina upacara Senin, minggu akhir November 2012 ini.

“Anak-anakku, seminggu lagi UAS semester ganjil akan dilaksanakan. Bapak doakan agar kamu sihat, sehingga dapat banyak beribadah dan lancar belajar”. Seacara sepontan para siswa menjawab, “Aamiin…”.

“Nak, agar Bapak, dan seluruh gurumu dikabulkan doanya oleh Allah, tentunya kamu harus dekat kepada Allah dan banyak berusaha. Dekat kepada Allah itu caranya dengan melaksanakan shalat lima waktu secara tertib dan teratur. Jangan lupa memperbanyak berdoa, memohon kepada Allah. Tadi malam Bapak, insya Allah juga para guru bangun malam, shalat malam, dan tidak lupa mendoakan akan kesuksesanmu semua”. Lagi-lagi anak-anak menjawab, “Aamiin”.

“Coba angkat tangan, siapa yang pengin sukses?” Tangan semua terangkat sebagai bukti bahwa seluruh siswa kepingin sukses. “Sekali lagi, Nak. Kesuksesanmu itu sangat banyak ditentukan oleh doa dan usahamu sendiri. Mestinya juga doa dari orang tua dan para gurumu. Bapak akan bertanya. Yang tadi malam shalat isya angkat yangan! ALhamddulillah, masih ada yang shalat isya meskipun hanya beberapa siswa saja.

“Nah, Bapak akan memberi hadiah kalau ada yang memenuhi syarat. Siapa yang tadi malam shalat tahajjud atau shalat lail? Ayo, siapa? Tidak Ada? Semoga doa Bapak dan para guru untuk kesuksesanmu pada shalat tahajjud tadi malam dikabulkan Allah. Masih ada hadiah, siapa yang tadi pagi shalat subuh berjamaah di masjid?

Sesungguhnya hati pembina itu sangat miris melihat kenyataan anak didiknya. Bahkan ketika ditanya tentang belajar, selalu jawabannya belum membuat para guru bangga. Keseharian para siswa tidak menunjukkan kesungguhan dalam menimba ilmu. Pandangan kosong, perilaku yang menunjukkan dan mengarah sebagai pembelajar sangat tiak kelihatan.

Kami sering diskusi dengan para guru dan komite bagaimana membangkitkan kesadaran kebersekolahan para siswa. Namun, sampai saat ini belum terwujud hasilnya. Kelihatannya masih ada kendala, sikap orang tua/wali terhadap pentingnya pendidikan itu sendiri.

Kisah menarik untuk diperhatikan, UAS  belum dilaksanakan, para  siswa bertanya, “Bu, kapan her dilaksanakan?”. Suatu pertanyaan yang multi tafsir. Tafsir yang paling salah  -(mungkin)- adalh keengganan siswa dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi UAS.

Saat menjelang waktu UAS, atau pas istirahat pergantian mata ujian, sangat jarang ditemukan siswa memegang buku atau persiapan untuk menghadapi soal-soal ujian.  Mereka lebih banyak duduk-duduk dambil ngobrol yang tidak ada kaitanyya dengan mata ujian.  Usaha para guru agar para siswa sadar akan pentingnya sekolah dan belajar masih jauh panggang dari api.

Pertanyaan yang sering bekecamuk dalam pikian para guru adalah, “Benarkah engkau sekolah, Nak?”

Sholat 1000 Warna

Shalat belum menjadi kebutuhan, tetapi lebih menjadi beban. Itulah kesimpulan sementara yang terjadi pada siswa-siswa saya.. Setiap waktu shalat tiba, baik itu untuk melaksanakan dhuha, terlebih dhuhur berjamaah selalu kucing-kucingan dengan para guru atau pembimbing. Acungan jari sebagai jawaban bahwa pagi tidak subuh, atau tidak shalat lainnya menjadi pemandangan yang biasa. Memang sangat memprihatinkan.

Sering dan sudah lama saya bersama sesama guru ngobrol mencari solusi agar para siswa melaksanakan shalat dengan penuh kesadaran. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya shalat bagi para siswa akhirnya menjadi beban juga. Berbagai cara pernah ditempuh. Pernah dengan cara diabsen; dengan cara bergilir tiap kelas paralel; dengan cara digiring; dan masih cara lain yang pernah ditempuh. Namun, hasilnya belum memuaskan.

Belum lagi kalau ada kegiatan yang pas melewati waktu shalat. Sangat sedikit siswa yang kemudian bergegas melaksanakan shalat. Lebih banyak menghindar. Yang sangat mengganjal lagi saat ada kegiatan karnaval tahunan di tingkat kecamatan. Dua kali/dua tahun mengikuti dan mengikutkan para siswa karnaval, ternyata hampir semua meninggalkan kewajiban shalatnya.

shalat seribu rupa

Karnaval HUR RI tahun 2012. Sebagaimana biasa dilaksanakan mulai pukul 13.00 sampai selesai. Karnaval biasanya diikuti semua sekolah dan semua instansi, termasuk dari masyarakat umum. Dua kali itu pula saya merasa prihatin karena para siswa  hanya beberapa saja yang shalat dhuhur dan asar. Karena tema karnaval tahun 2012 ini tentang budaya, seluruh siswa saya ternyata datang di sekolah sudah memakai pakain sebagaimana ditugaskan oleh pembinanya.

“Para siswa, kita akan berangkat menuju lapangan pukul 12.45, maka yang belum shalat agar segera shalat dhuhur!”, demikian seruan  pembina. Seruan, ajakan, dan perintah itu berkali ulang disampaikan. Namun, para siswa tidak beranjak menuju tempat wudlu. Melihat gelagat yang kurang mengenakkan tersebut, kepala sekolah itu membuat gerakan baru. Kepala mengajak beberapa tiga guru untuk membimbing agar semua siswa shalat.

Ketika seluruh siswa diminta masuk mushalla untuk diabsen, ternyata para siswa menaati perintah. Para siswa masuk sesuai petunjuk pembina. Sebelumnya, kepala dengan dua orang guru sudah sepakat, setelah dilakukan absensi para siswa diajari tayamum dan dilaksankan shalat dhuhur sekalin jamak asar.

“Alah, Pak. Hanya tidak shalat sekali saja kan tidak apa-apa”, di antara gerutu para siswa.”Tetap shalat semua, kecuali bagi siswa putri yang haid. Boleh tidak shalat”. Setelah diberi contoh tayamum, diulang beberapa kali, kemudian siswa diminta tayamum semua. Ditunjuklah seorang siswa untuk menjadi imam.

Sungguh saya sadar, bahwa yang saya lakukan memerintahkan para siswa untuk melakukan sahalat dengan pekaian beraneka budaya belum tentu benar. Tetapi itulah kenyataannya. kalau tiak demikian, saya kira para siswa tetap tidak akan melakukan shalat dhuhur, apalagi asar.

“Ya Allah, hamba khilaf. Telah memaksa para siswa untuk melakukan shalat dengan tidak sopan. Air pun  ada, tetapi para siswa hanya saya perintahkan  tayamum saja. Itu, langkah yang paling jitu saat itu . Hanya Engkau yang tahu maksudku”.

 

Syawal yang belum Bermakna Peningkatan.

Sekan tidak ada habisnya menuliskan keberagamaan para siswa di pinggiran Gunungkidul. Beberapa tulisan saya telah mencoba menggambarkan kenyataan yang ada di tengah masyarakat (sekolah/madrasah maupun masyarakat nyata). Juga telah saya paparkan, meskipun dengan bahasa ringan sejarah dakwah di Semanu khususnya. Gambaran masa lalu dan masa sekarang pun sempat saya sajikan meski masih sangat sederhana dengan objel penelitian peserta didik dan wali/orang tuaya.

Kepekaan dan kesemangatan peserta didik untuk menjalankan syariat agama benar-benar masih sangat memprihatinkan. Paling tidak ini yang terjadi di madrasah, tempat saya bertugas. Hal tersebut terindikasi dari perilaku yang sangat kelihatan. Misalnya, peserta didik tidak segera mengambil peran segara dalam melaksanakan shalat pada saatnya tiba. Dianggap hal yang biasa tidak berpuasa karena alasan-alasan yang sesungguhnya tidak “nyar’i”. Bagi peserta didik perempuan masih teranggap bahwa memakai kerudung atau busana muslimah itu cukup ketika bengikuti kegiatan di madrasah. Baik itu KBM harian maupun ekstrakurikuler. Dan masih didapati perilaku yang kurang atau tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam. Continue reading “Syawal yang belum Bermakna Peningkatan.”

Pencitraan Madrasah

Pencitraan Madrasah

Pemerintah kita sesungguhnya tidak bermaksud membedakan antara sekolah dengan madrasah. Seluruh produk hukum terkait pendidikan telah menyejajarkan antara sekolah dengan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA. Sehingga tidak boleh lagi ada perasaan bahwa madrasah lebih rendah dari sekolah. Atau sebaliknya. Kalau toh ada perbedaan, sebenarnya hanya terletak pada penciriannya, bahwa madrasah merupakan sekolah bercirikhas Islam. Hal tersebut dibedakan dengan porsi pelajaran Agama Islam, di madrasah 10 jam per minggu termasuk di dalamnya Bahasa Arab, sedangkan di sekolah 2 jam per minggu. Pengelolanya: sekolah pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sedangkan madrasah dikelola oleh Kementerian Agama.
Namun, kenyataannya masih ada sebagian pegawai (baca: guru) Kementerian Agama sampai saat ini yang merasa adanya perbedaan. Diantara anggapan tersebut antara lain bahwa madrasah belum sejajar dengan sekolah, baik itu kualitas maupun kuantitas lulusannya; masih dirasakan bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan kelas dua; madrasah adalah sekolah swasta. Dan masih banyak anggapan minor atau miring tentang madrasah. Akumulasi dari semua anggapan miring tersebut adalah kurang PD-nya guru Kemenag dalam kancah pendidikan ketika bersanding dengan guru Dinas Pendidikan. Hal ini tidak dapat digeneralisasi, namun harus dicari solusinya sehingga para guru madrasah pada saatnya berani menyatakan bahwa dirinya adalah ada.
Untuk menjawab permasalahan di atas dapat dikritisi dari Standar Minimal Pendidikan. Apabila SPM telah terpenuhi oleh madrasah, maka tidak ada alasan para guru madrasah merasa minder atau tidak PD bersejajar dengan guru dinas pendidikan. Artinya madrasah sama dengan sekolah. Untuk itu, madrasah harus mencitrakan diri sebagai lembaga pendidikan yang patut diperhitungkan. Kesan miring masyarakat (-bahkan dari para guru madrasah sendiri) terhadap madrasah harus satu per satu dihilangkan. Meski pelan, harus pasti.
Membuat pencitraan itu bukan pekerjaan gampang. Tentu harus dimulai dengan analisa yang matang sehingga terumuskan apa dan bagaimana langkah strategisnya. Setiap objek masalah harus disertai cara pencitraannya. Dimulai dari yang mudah dilakukan; dari yang kelihatan; dan dari yang cepat dirsasakan hasilnya.
Dapat diambil contoh:
Pergedungan harus ditata rapi, bersih, cat serasi sehingga mengesankan keindahan. Pakaian/seragam pegawai harus rapi, matching, warna menarik, sepatu mengkilap sehingga mengesankan kecantikan dan ketampanan pemakainya. Begitu juga seragam siswa. Civitas madrasah selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat, misalnya bakti sosial/kerja bakti, karnafal, festival atau olimpiade-olimpiade yang melibatkan sekolah umum. Madrasah mengadakan kegiatan yang melibatkan siswa tingkat bawahnya, misalnya MTs mengadakan kegiatan yang pesertanya siswa SD/MI. Guru aktif dalam berbagai kegiatan peningkatan mutu SDM/profesionalisme. Tentu masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan.
Untuk mendapatkan hasil pencitraan yang bagus tentu membutuhkan waktu yang lama dan aktifitas yang tidak mandek. Artinya, usaha pencitraan itu harus dilakukan secara terus-menerus dan selalu diadakan evaluasi. Sampai akhirnya, seluruh civitas madrasah merasa dirinya benar-benar sejajar, syukur unggul dari sekolah umum. Pekerjaan yang tidak mudah setelah usaha pencitraan itu brehasil adalah mempertahankan citra baik tersebut ke masa depan.
Sebenarnya pegawai kemenag, khususnya pengelola madrasah saat ini sudah saatnya merasa berada pada posisi unggul. Fasilitas KBM di madrasah tidak jauh berbeda dengan sekolah. Terutama madrasah negeri fisik pergedungan benar-benar telah bersaing dan bahkan lebih baik dari sekolah sekitarnya. Media pembelajaran pun demikian. SDM atau para guru pun telah memenuhi standar profesionalitas. Apalagi PNS-nya sering dicemburui karena adanya uang lauk-pauk.
Ketika masalah dan solusi teknisnya telah dirumuskan, untuk dapat mengangkat harkat dan martabat madrasah adalah kecerdasan para pemangkunya untuk bersyukur. Bersyukur dalam arti luas dan cerdas. Bersyukur dalam arti aktif, kreatif, inovatif, dan penuh dedikasi. Semua kesan miring tentang madrasah: guru/SDM, KBM, sarana-prasarana harus benar-benar terjawabkan. Pada saatnya seluruh civitas madrasah berani berdiri tegak, berjalan tegap, dan memandang lurus ke depan sebagai bukti bahwa keberadaannya telah benar-bebar diperhitungkan oleh masyarakat luas.
Kapan hal tersebut akan terwujud? Saat ini, dari yang paling kecil, dan dimulai dari setiap diri pemangku madrasah.

Musti Gurukah yang Disalahkan?

“Para siswa, apa layak minta lulus apabila kamu semua saja males belajar?”. “Layak, Bu…!”, jawab siswa kelas 9 serentak. “Sekarang untuk para siswa kelas 7 dan 8, kamu ternyata juga males belajar. Apakah layak dan pantas kamu minta naik kelas?”. Serentak siswa kelas 9 yang menjawab, “Tidak, Bu…”.

Dialaog terbuka tersebut terjadi saat pembina upacara memberikan pembinaan pada Senin pagi kemarin. Bu guru tetap bersemangat dengan memberikan nasehat dan semangat agar seluruh siswa giat belajar. Sangat terasa, guru tersebut memahami kenyataan yang ada pada diri siswanya.

Sangkaan jarang atau bahkan tidak mau belajar merupakan jawaban pasti. Hanya dengan hitungan jari saja dari 456 siswa yang datang di sekolah setiap hari merasa bahwa dirinya punya kewajiban belajar. Bila guru menanyakan apakah malamnya belajar, jawaban yang keluar dari mulut yang masih lumayan jujur adalah tidak. Atau diam. Atau saling melihat sesama siswa. Continue reading “Musti Gurukah yang Disalahkan?”

MADRASAH MASIH BANYAK MASALAH (!?)

Regulasi pendidikan pada orde reformasi ini sangat cepat. Dari undang-undang, peraturan-peraturan, sampai surat edaran yang terkait dengan pendidikan sangat lumayan banyak. Dan, dari seluruh aturan pendidikan tersebut nyaris tidak ada lagi dikotomi: sekolah-madrasah. Namun, masih ada saja yang punya anggapan bahwa masih ada diskriminasi   pemerintah dalam menyikapi anak bangsa, yang di sekolah dan yang di madrasah. Pemenuhan tentang standar biaya, misalnya.

Kita ambil contoh di Yogyakarta. Sekolah, selain mendapat BOS sebagaimana yang diterima Madrasah juga mendapat BOSDA.  Keterpautan pembiayaan tersebut sangat dirasa akan berakibat kepada kinerja. Yang terpenuhi pembiayaannya selalu dikesankan   memiliki mutu lulusan yang lebih baik. Hal tersebut dapat kita lihat dari hasil ujian akhir 2010/2011 kemarin. Continue reading “MADRASAH MASIH BANYAK MASALAH (!?)”