Guru Madrasah

Samakah guru madrasah dengan guru pada sekolah umum? Jawabnya beragam. Dapat sama. Dapat pula berbeda. Perbedaan jawaban tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya. Secara umum  setiap guru memiliki kompetensi sama. Namun, ketika  ada yang mengatakan bahwa dirinya mengajar di madrasah, orang yang mendengar langsung memiliki prasangka guru tersebut memiliki kompetensi keberagamaan lebih.

Perlu ditindaklanjuti anggapan  tersebut. Benarkah guru madrasah rata-rata memiliki kompetensi keberagamaan lebih daripada guru di luar madrasah? Jawaban atas masalah tersebut adapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, aktifitas guru tersebut dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keberagamaan dalam hidup kesehariannya. Kedua, guru madrasah banyak terlibat dalam kegiatan keagamaan, baik di madrasah maupun di masyarakat. Ketiga, kegiatan keagamaan di madrasah lebih banyak dan lebih berkualitas. Keempat, tingkat keberagamaan siswa madrasah lebih dari pada siswa sekolah umum. Tentu masih ada aspek lain yang dapat mencirikan kompetensi keberagamaan guru madrasah. Continue reading “Guru Madrasah”

Guru PNS makin Sejahtera

Gaji guru PNS akan naik.  Mulai Januari 2009 guru PNS akan mendapat tambahan gaji  sebesar 250 ribu per bulan. Tentu disambut gembira oleh para guru yang bisa merharap akan menerima.  Hanya saja tambahan tersebut dikhususkan bagi guru PNS yang belum mendapat tunjangan sertifikasi.

Lalu bagaimana nasib guru yang sudah lulus sertifikasi dan telah menyandang sebagai guru profesional, akankah segera mendapat haknya? Pertanyaan yang sering muncul tersebut sulit ditebak jawabnya.  Ada pakar yang berkomentar,

“Jika pemerintah harus membayar tunjangan guru yang telah tersertifikasi saat ini, lalu uang dari mana?”

Pernyataan tersebut sempat membuat sesak nafas para guru yang sudah lulus dan tinggal nunggu ngucurnya tunjangan. Continue reading “Guru PNS makin Sejahtera”

Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU

Meskipun pemerintah tidak mengahruskan seragam sekolah, tetapi kenyataannya hampir semua sekolah menetapkan segaram bagi peserta didiknya.  Peringatan  pemerintrah, agar sekolah tidak  mengadakan/mewajibkan apalagi mengelola pengadaan seragam ternyata tidak sepernuhnya mendapat perhatian pengelola sekolah. Ada saja alasan agar (akhirnya) sekolah mengelola seragam. Tidak rahasia lagi,  setiap sekolah yang mengelola seragam bagi peserta didiknya,  ada keuntungan yang pasti didapatnya.

Di Yogya misalnya. Adanya larangan sekolah mengelola pengadaan seragam, tidak mengurungkan usaha pengelola sekolah agaar bisa tetap mengelola. Bahasa dan caranya saja yang (sedikit) berbeda.  Satu di antara usaha tersebut adalah dengan cara menggiring siswa/para wali agar sekolah memfasilitasi pengeadaan seragam. Lalu, dibuatlah surat (yang seakan-akan datangnya  dari wali) yang isinya permohonan. Permohonan kepada sekolah agar difasilitasi pembelian seragam.  Surat dari wali tersebut dijadikan bukti bahwa ada permintaan dari wali kepada sekolah.  Continue reading “Murid Baru = Seragam Baru = Pakaian Guru (Ternyata Juga) BARU”

Bingung Dengan Sertifikasinya

Saat ini banyak guru bingung. Bingung gara-gara sertifikasi. Yang sudah luluslah  portofolio, dan menyandang sertfikat keprofesionalannya, bingung menunggu kapan cair duitnya. Yang belum lolos portofolio, bingungharus mengikuti PLPG. Yang belum lulus PLPG, bingung harus mengulang dengan segala “kemaluannya”. Yang belum mendapat jatah/panggilan sertifikasi pun bingung. Sekarang, guru yang tidak/belum  sarjana, telah menjadi guru lebih 20 tahun, umur minimal 50 tahun,   dulu tidak berfikir akan mendapat kesempatan sertifikasi,  ternyata menjadi bagian yang paling bingung.

Bayangkan, mereka para guru tua. Tua usianya, tua pengalamannya, tua dan mulai rapuhs semangatnya, tiba-tiba mendapat panggilan sertifikasi. Luar biasanya bingungya. Tidak sedikit guru yang mencari tenaga pembantu dadakan.  Berikut sebagian kisahnya. Continue reading “Bingung Dengan Sertifikasinya”