Kebergamaan Siswa Kita

Madrasah. Adalah sebuah kata yang terkandung makna di dalamnya  pembelajaran keislaman. Siswa madrasah selalu dianggap memiliki nilai lebih dalam hal agama. Tentu saja nilai keagamaan tersebut (seharusnya) juga tercermin dalam perilaku dalam kehidupan para siswa tersebut.  Karena itu, dalam kesempatan lomba keagamaan antarpelajar, siswa madrasah tidak masuk dalam kriteria peserta. Siswa madrasah  pasti memiliki tingkat keberagamaan yang lebih dari siswa sekolah umum.  Benarkah pendapat tersebut? Continue reading “Kebergamaan Siswa Kita”

Harus Lulus!

“Aku harus lulus!”

Kalimat tersebut sering diteriakkan siswa kelas 9 MTs N Semanu Gunungkidul. Itu paling tidak dua bulan sebelum memasuki UN. Kesempatan upacara, Pembina mengajak menerikkan yel-yel dambaan tersebut. Setelah sholat, mengawali pelajaran, mengakhiri pelajaran. Pokoknya hanpir tiap kesempatan siswa kelas 9 menerikkannya. Continue reading “Harus Lulus!”

Guru Madrasah

Samakah guru madrasah dengan guru pada sekolah umum? Jawabnya beragam. Dapat sama. Dapat pula berbeda. Perbedaan jawaban tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya. Secara umum  setiap guru memiliki kompetensi sama. Namun, ketika  ada yang mengatakan bahwa dirinya mengajar di madrasah, orang yang mendengar langsung memiliki prasangka guru tersebut memiliki kompetensi keberagamaan lebih.

Perlu ditindaklanjuti anggapan  tersebut. Benarkah guru madrasah rata-rata memiliki kompetensi keberagamaan lebih daripada guru di luar madrasah? Jawaban atas masalah tersebut adapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, aktifitas guru tersebut dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keberagamaan dalam hidup kesehariannya. Kedua, guru madrasah banyak terlibat dalam kegiatan keagamaan, baik di madrasah maupun di masyarakat. Ketiga, kegiatan keagamaan di madrasah lebih banyak dan lebih berkualitas. Keempat, tingkat keberagamaan siswa madrasah lebih dari pada siswa sekolah umum. Tentu masih ada aspek lain yang dapat mencirikan kompetensi keberagamaan guru madrasah. Continue reading “Guru Madrasah”

Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah

Bagi madrasah, pengawas hanya ada satu:  pengawas PAI.  Pengawas tersebut benar-benar “hebat”. Orang Yogya menyebutnya pengawas Raden Ngabehi. Raden Ngabehi bukan gelar keraton. Tidak lebih sekedar bahasa sindiran untuk para pengawas yang serba bisa dan serba tahu tersebut. Toh kenyataannya mereka sadar tidak kompeten, namun aturanlah yang memaksanya menjadi itu.

Pengawas di madrasah (Departemen Agama)  memiliki tugas yang berat. Selain mengawasi kinerja para guru PAI, beliau juga harus mengawasi guru mata pelajaran umum. Apa ini tidak hebat? Bayangkan saja, pengawas yang memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Arab, karena jabatannya harus mengawasi mata pelajaran lain. Hasilnya? Continue reading “Pengawas Mata Pelajaran di Madrasah”

Madrasah Masa Kini

Madrasah diharapkan bisa berdiri sama tinggi-duduk sama rendah dengan sekolah di bawah Dinas Pendidikan. Namun, sampai saat ini, dari sisi akademis masih ada kesenjangan. Kesenjangan dalam kualitas lulusannya. Meski tidak bisa dikatakan seratus persen beda, namun .secara umum demikian adanya. Paling tidak, dari hasil UN masih sangat berjarak.

Apa dan mengapa bisa demikian? Untuk mandapat jawaban tentu diperlukan kajian khusus. Standar minimal pendidikan bisa dijadikan parameter terjadinya perbedaan itu. Sarana-prasarana, misalnya. Banyak madrasah yang masih sangat minim akan kecukupan standar miniml sarananya. Komputer, laboraturium IPA, bahasa, IT masih sedikit yang memiliki. Perpustakaan jauh dari memadai. Itu yang kelihatan secara umum. Belum lagi sarana yang terkait dengan media pembelajaran.

Tenaga pendidik di madrasah masih banyak yang tidak sesuai dengan ijazah keahliannya. Guru yang pas pun, kurang mendapat perhatian serius dari lembaga terkait -(baca Departemen Agama-). Jarang kita dengar guru madrasah mendapat pelatihan/pendidikan untuk meningkatkan keprofesionalannya. Pelatihan yang ada pun terkesan masih berorentasi pada “asal”. Bukan pada hasil. Akibatnya pelaksanaannya kurang serius dan kurang profesional. Tindak lanjut dari pelatihan pun jarang dilakukan.

Pengawas pendidikan di madrasah juga merupakan masalah tersediri. Pengawas yang ada belum semua menguasai tupoksinya. Alasan yang kuta adalah latar belakang pengawas tersebut. Bukan rahasia lagi, seakan pengawas adalah “penyelamatan” bagi para pegawai Depag yang “kurang produktif lagi”. Akibatnya, tidak sedikit pengawas yang tidak menguasai materi ketugasannya.
Sebenarnya, dari pengawas tersebut kekurangprofesionalan guru bisa terdongkrak. Selama belum ada perubahan cara pengadaan pengawas di Depag, selama itu pula optimalisasi pengawas tidak berhasil guna.

Kembali ke tenaga pendidik.
Dengan PP 74 tahun 2009 tentang guru, harusnya guru Depag secara pelan harus pasti ada perubahan positif. Usaha dari Depag maupun usaha mandiri guru untuk memenuhi keprofesionalannya tidak bisa ditawar lagi. Ini jika pendidikan di bawah Depag tidak aka ketinggalan semakin jauh dari lainnya.