Musti Gurukah yang Disalahkan?

“Para siswa, apa layak minta lulus apabila kamu semua saja males belajar?”. “Layak, Bu…!”, jawab siswa kelas 9 serentak. “Sekarang untuk para siswa kelas 7 dan 8, kamu ternyata juga males belajar. Apakah layak dan pantas kamu minta naik kelas?”. Serentak siswa kelas 9 yang menjawab, “Tidak, Bu…”.

Dialaog terbuka tersebut terjadi saat pembina upacara memberikan pembinaan pada Senin pagi kemarin. Bu guru tetap bersemangat dengan memberikan nasehat dan semangat agar seluruh siswa giat belajar. Sangat terasa, guru tersebut memahami kenyataan yang ada pada diri siswanya.

Sangkaan jarang atau bahkan tidak mau belajar merupakan jawaban pasti. Hanya dengan hitungan jari saja dari 456 siswa yang datang di sekolah setiap hari merasa bahwa dirinya punya kewajiban belajar. Bila guru menanyakan apakah malamnya belajar, jawaban yang keluar dari mulut yang masih lumayan jujur adalah tidak. Atau diam. Atau saling melihat sesama siswa. Continue reading “Musti Gurukah yang Disalahkan?”

UN 2010 SLTA YOGYA: LUAR BIASA

Catatan khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakrta (DIY) dari Pak Nuh, “Tahun lalu cukup bagus sekitar 93 persen (tidak mengulang), tetapi sekarang yang mengulang 23,70 persen dan 77 persen tidak mengulang. Ini daerah Jawa yang paling besar yang mengulang dari sisi persentase”.

Luar biasa.

Ungkapan tersebut bermakna bias. Tergantung dari sudut pandang mana kita akan memaknai terkait dengan hasil UN SLTA DIY tahun ini. Selama ini Yogya selalu menajdi ikon pendidikan di Indonesia. Kota pelajar, ya Yogya. Bahkan tidak sedikit, pelajar yang –katanya- berprestasi di daerah (baca luar Jawa), bila masuk sekolah Yogya harus mengalami dan melalui ini dan itu dulu. Pengalaman membuktikan, beberapa siswa dari luar terpaksa harus dipindah ke sekolah pinggiran Yogya karena dinilai sulit mengikuti lajunya pembelaran dalam satu kelas/sekolah anak-anak  Kota Yogya.  Tentu ini tidak berlaku sebagai generalisasi.

Belum hilang dari ingatan saya. Ini terjadi dalam perjalanan saya dari Kotabumi, Lampung Utara ke  Tanjung Karang. Dalam kendaraan umum yang saya naiki, ada percakapan dua orang  Bapak  tentang anaknya. Satu Bapak  asal Palembang begitu semangat dan bangganya menceritakan bahwa anak-anaknya dapat sekolah/kuliah di Yogya. Agar anak-anaknya dapat mengenyam dan menimba ilmu di Yogya, semua anaknya selulus SMP harus sudah dipindah di Yogya. Tidak tanggung-tanggung,  anak-anaknya disewakan rumah sehingga dalam satu keluarga dapat menempat dalam satu rumah. Continue reading “UN 2010 SLTA YOGYA: LUAR BIASA”

Murid Baru

Tidak hanya anak yang bingung. Orang tua pun lebih bingung.  Ketika hari penerimaan calon anak didik baru tiba, menyemut orang tua dengan anaknya menuju sekolah yang difaforitkan. Mereka itu rata-rata siswa yang memiliki angka hasil ujian nasional bagus. Namun, nilai bagus pun tidak cukup.  Orang tua harus berduit. Lho? Iya, sebab semurah-murahnya sekolah faforit duitnya pasti banyak.  Dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Ada siswa yang memiliki nilai lumayan bagus, rata-rata 9. Ketika ditanya mengapa tidak ke sekolah faforit, jawabnya sangat enteng,

“Tidak punya biaya. Sekolah di sana mahal”.

Lalu bagimana dengan iklan sekolah gratis?  Tentang sekolah gratis ini ada cerita menarik.  Maghrib itu saya pulang dari Yogya. Super Cup 83 yang saya naiki ternyata kempes di jalan.  Saya cari tukang tambal ban. Sambil menunggu hasil tambal jadi, ngobrollah saya dengan si Bapak dari 10 anak itu.  Continue reading “Murid Baru”

Madrasah Masa Kini

Madrasah diharapkan bisa berdiri sama tinggi-duduk sama rendah dengan sekolah di bawah Dinas Pendidikan. Namun, sampai saat ini, dari sisi akademis masih ada kesenjangan. Kesenjangan dalam kualitas lulusannya. Meski tidak bisa dikatakan seratus persen beda, namun .secara umum demikian adanya. Paling tidak, dari hasil UN masih sangat berjarak.

Apa dan mengapa bisa demikian? Untuk mandapat jawaban tentu diperlukan kajian khusus. Standar minimal pendidikan bisa dijadikan parameter terjadinya perbedaan itu. Sarana-prasarana, misalnya. Banyak madrasah yang masih sangat minim akan kecukupan standar miniml sarananya. Komputer, laboraturium IPA, bahasa, IT masih sedikit yang memiliki. Perpustakaan jauh dari memadai. Itu yang kelihatan secara umum. Belum lagi sarana yang terkait dengan media pembelajaran.

Tenaga pendidik di madrasah masih banyak yang tidak sesuai dengan ijazah keahliannya. Guru yang pas pun, kurang mendapat perhatian serius dari lembaga terkait -(baca Departemen Agama-). Jarang kita dengar guru madrasah mendapat pelatihan/pendidikan untuk meningkatkan keprofesionalannya. Pelatihan yang ada pun terkesan masih berorentasi pada “asal”. Bukan pada hasil. Akibatnya pelaksanaannya kurang serius dan kurang profesional. Tindak lanjut dari pelatihan pun jarang dilakukan.

Pengawas pendidikan di madrasah juga merupakan masalah tersediri. Pengawas yang ada belum semua menguasai tupoksinya. Alasan yang kuta adalah latar belakang pengawas tersebut. Bukan rahasia lagi, seakan pengawas adalah “penyelamatan” bagi para pegawai Depag yang “kurang produktif lagi”. Akibatnya, tidak sedikit pengawas yang tidak menguasai materi ketugasannya.
Sebenarnya, dari pengawas tersebut kekurangprofesionalan guru bisa terdongkrak. Selama belum ada perubahan cara pengadaan pengawas di Depag, selama itu pula optimalisasi pengawas tidak berhasil guna.

Kembali ke tenaga pendidik.
Dengan PP 74 tahun 2009 tentang guru, harusnya guru Depag secara pelan harus pasti ada perubahan positif. Usaha dari Depag maupun usaha mandiri guru untuk memenuhi keprofesionalannya tidak bisa ditawar lagi. Ini jika pendidikan di bawah Depag tidak aka ketinggalan semakin jauh dari lainnya.