Maaf Pak, Saya Gagal

Desember baru saja berlalu. Bagi anak sekolah, Desember merupakan bulan penerimaan hasil belajar selama semester pertama dan dilanjutkan liburan semester. Dari hasil belajar selama satu sesleter  yang tertuang dalam  rapot tersebut anak akan tahu kualitasnya sebagai siswa di sekolah atau di kelasnya.

Malam itu tidak seperti biasa. Anak-anak berkumpul di hall selain dengan Al-Quran juga membawa rapot untuk disampaikan kepada pengasuh.  Celoteh 58 anak menjadikan ruangan itu menjadi ramai. Yang diceritakan hampir semua sama, tentang nilai rapotnya. Bahkan banyak yang menunjukkan wajah berbunga. Namun, ada juga beberapa anak yang melipat wajahnya. Mereka merunduk, sesekali membuang pandangan agar tidak bertatap dengan yang lain.

“Siapa yang berprestasi?” Demikian pengasuh itu memulai dialognya dengan seluruh anak asuhnya. Pertanyaan pengasuh yang agak abstrak itu kurang mendapat respon dan anak-anak asuh. Seakan mereka ragu dan bingung dengan maksud pengasuh tersebut. Mereka hanya saling melihat satu dengan lainnya.

“Siapa yang termasuk mendapat ranking 10 besar di kelasnya?” Sontak, hampir seluruh anak  mengangkat rapotnya dengan jawaban, ‘Saya….”. Setelah dilanjutkan dengan arahan-arahan tentang keberhasilan di sekolah yang ditandai dengan lembar-lembar angka dalam rapot, anak oleh pengasuh, anak-anak itu terdiam. Terpaku.  Kalimat-kalimat yang disampaikan  oleh pengasuh bak mantra yang mampu menghipnotis pendengarnya.

Saat itu pengasuh menerangkan tentang apa itu pinter, cerdas, dan apa itu prestasi. Anak-anak mulai dapat menangkap apa yang disampaikan pengasuh itu. Wajah yang tadinya muram pun mulai berubah.  Apa yang dibayangkan tentang rapot yang diterimanya ternyata tidak semua sama seiya dengan pendapat pengasuh.  Apalagi pengasuh ternyata tidak terlalu membanggakan kepada anak-anak yang memiliki rangking papan atas.

Tiba-tiba, satu anak mendekat dengan isyak tangisnya. “Maaf, Pak. Saya gagal. Nilai saya sangat tidak memuaskan. Saya malu dengan Bapak-Ibu. Saya malu dengan keluarga. Jauh-jauh saya ke sini tidak dapat beprestasi”. Teman-teman lainnya diam. Ikut larut tangisan satu anak itu.

“Lo…siapa yang  mengatakan kamu gagal, tidak berprestasi. Kamu anak yang baik.  Kamu disanyangi teman-temanmu. Kamu jujur. Kamu pinter masak, pinter ngaji. Bapak-Ibu bangga dengan kamu. Kalau ada tamu, kamu segera tanggap. Setiap ada pekerjaan pasti kamu dapat menyelesaikan. Sopan. Lo…kurang apa kamu. Kamu sedih, merasa gagal karena ada nilai pelajaranmu yang tidak tuntas?

“Nak, kamu keliru. Bapak-ibu lebih bangga anak-anakku punya karakter. Punya akhlak katimbang nilai rapotnya baik tetapi tidak jujur. Juara, tetapi tidak tanggap terhadap masalah sosial. Juara tetapi tidak disayangi teman.  Kamu di sini, di Panti Asuhan ini didik untuk menjadi anak yang cerdas, tanggap, berakhklak. Dan itu Nak, yang menjadikan aku bangga”.

Nasehat pengasuh itu membuyarkan anggapan-anggapan anak selama ini. Seakan, pengasuh menyampikan bahwa yang dipentingkan dalam hidup itu bukan hanya pinter. Pinter tidak cukup. Yang dijamin menjawab masa depan adalah kecerdasan dalam menghadapi kehidupan dengan karakter yang baik.

Anak itu lega. Berani menatap. Wajahnya tidak tertunduk lagi. Bak tanaman layu lalu disiram dengan air yang jernih dan cukup. Segar kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.