Dampak penyebaran Covid-19 telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan manusia. Mendunia. Ekonomi, sosial, ketahanan, kesehatan, juga bidang pendidikan. Indonesia sebagai negara berpulau-pulau kelihatannya akan merasakan dampak penyebaran covid-19 ini lebih lama dibandingkan negara lain, Singapura, Malaysia, Vietnam, dan negara lainnya.

Para ahli memperkiarakan berbagai sebab mengapa Indonesia akan mengalami wabah ini lebih lama. Selain secara geografis Indonesia terdiri jajaran ribuan pulau, keadaran bangsa ini untuk disiplin dan tertib masih sangat sulit. Tentu kedua karakter tersebut belum menjadi cirikhas bangsa Indonesia disebabkan tingkat berkependidikan bangsa ini juga rendah bila dibandingkan dengan negera lain.

Pelecehan terhadap aturan dapat terjadi di mana-mana dan dapat kita saksikan dalam berbagai tempat dan kesempatan. Semua aturan untuk menghadang penyebaran Covid-19 itu luar biasa. Semua pihak diajak untuk golong-gilig menghadang penyebaran virus mematikan ini. Dan terbukti, semua bergerak, mengampanyekan bahayanya virus tersebut sekaligus resep menghindarinya.

book with green board background
Sadar Pendidikan di Tengah Wabah COVID-19

Hasilnya? Belum atau tidak maksimal. Mengapa? ini yang harus dicari penyebab dan dicari solusinya. Kita coba dari sisi pendidikan. Dengan hilangnya karakter disiplin dan tertib aturan sebagian besar bangsa ini menunjukkan bahwa pendidikan selama ini belum menghasilkan bangsa yang sadar akan pentingnya tertib dan disiplin.

Dapat kita saskikan, aturan agar semua melakukan dan menerapkan sosial distancing dan personal distancing masih terjadi pelanggaran di mana-mana. Aturan agar tidak banyak keluar rumah, dan jika terpaksa keluar rumah harus pakai masker, yang terjadi masih banyaknya orang berkumpul di tempat umum, dan masker sekedar menjadi asesoris. Belum lagi bagi pecandu rokok. Masker cukup dicenthelkan di dagu atau leher.

Kelihatannya konsep pendidikan kita perlu dikoreksi lagi. Pendidikan yang dapat menghasilkan bangsa berkarakter. Bukan hanya jargon. Namun, karakter yang terimplementasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernega.

Banyaknya jumlah dan isi mata pelajaran mengakibatkan peserta didik malah tidak mendapat apa-apa. Atau mendapat banyak tetapi sedikit-sedikit. Karena mendapat sedikit, akhirnya magel (setengah mateng). Generasi magel ini malah sasngat membahayakan. Atau kita perlu studi tiru ke sistem pendidikan di Australia. Katanya, di sana selain jumlah pelajaran yang sedikit, kontennyapun lebihg mengarah kepada karakter dan keahlian.

Semoga, dengan hadirnya Covid-19 ini menjadi pemicu koreksi diri, khususnya di bidang pendidikan. Kemudia sadar bahwa pendidikan itu sangat penting jika bahan, cara, dan sasarannya tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.